Salah satu ciri makhluk hidup adalah bergerak. Bergerak memungkinkan suatu makhluk hidup bepindah dari suatu tempat ke tempat lain. Adanya gerakan membuat makhluk mampu mencari makan, menghindari diri dari musuh, adanya kemampuan berpindah tempat juga sangat membantu makhuk hidup mengenali lingkungannya. Dalam pembahasan ini pergerakan yang kita maksud adalah pergerakan-pergerakan yag dilakukan oleh hewan, karena memang kebanyakan hewan dan manusia memiliki kemampuan untuk berpindah tempat, sementara untuk tumbuhan terdapat definisi sendiri dalam menjelasakan pergerakan yang dialami tumbuhan. Sistem gerak pada hewan disusun oleh 2 komponen penting yaitu otot dan tulang. Keduanya saling mendukung, saling melengkapi satu sama lain. Otot tidak akan bisa bisa bekerja bila tanpa tulang, begitu sebaliknya tulang hanya sebagai rangka saja tanpa dibungkus oleh otot. Pembahasan kali ini menitikberatkan pada mekanisme pergerakan otot rangka.

Struktur Otot Rangka yang Menempel pada Tulang
Struktur Otot Rangka yang Menempel pada Tulang

Otot rangka (Skeletal Muscle) bertanggungjawab terhadap pergerakan karena menempel pada tulang. Sebagian besar otot rangka terdiri dari seberkas serat-serat panjang dengan nukleus yang banyak serta berada dipinggir sel, ini disebabkan pada pembentukannya melalui penyatuan berbagai sel embronik. Serabut ini tersusun atas protein yang disebut myofibril  yainng tersusun secara longitudinal. Myofibril tersusun dari protein-protein yang berbentuk filament-filamen. Pertama filament tipis (thin filament) terdiri dari untai aktin dan 2 unit protein regulasi ( troponin dan tropomiosin) yang saling melillit. Kedua filament tebal (Thick filamentkumpulan potein myosin yang sailng mengumpul.

Struktur Aktin dan Myosin

Penyusun miofobril terdiri dari protein aktin dan miosin. Setiap molekul filamen myosin terdiri dari wilayah ekor yang panjang dan wilayah kepala yang membulat ke samping. Ekor mekelat pada ekor myosin yang lain sehingga membentuk pola garis-garis yang tebal. Bagian kepala merupakan daerah pusat reaksi bioenergi karena mampu menghidrolisis ATP menjadi ADP yang mengakibatkan bagian kepala mampu berikatan dengan aktin pada daerah tertentu. Pada aktin terdapat tropomiosin, suatu protein regulasi. Dan kompleks troponin, seperangkat protein regulasi tambahan. Pada fase istirahat protein tropomiosin menutupi daerah pengikatan kepala myosin.

Struktur aktin dan Miosin
Struktur aktin dan Miosin

Otot rangka di sebut juga otot lurik (Striated muscleKaren terdapat sarkomer. Pada daerah sarkomer ini terdapat pola gelap terang-gelap terang. setiap sarkomer memiliki jembatan titian antar filament. Filamen myosin hanya terdapat pada pita A (gelap). Pita I filamen terang yang hanya mengandung filamen aktin, yang membentang hingga pita A. terdapat daerah terang dibagian tengah pita A yang disebut zona H. Ditengah-tengah pita I terdapat garis gelap yang disebut garis Z. Satu sarkomer adalah daerah antara garis Z ke garis Z berikutnya.

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6855898136587346733#editor/target=post;postID=7925527898108060213
Sebaran Zona pada sarkomer

REGULASI KONTRAKSI OTOT RANGKA

Saat berkontraksi peristiwa listrik, kimiawi dan molekuler saling bekerja sama, yang dipicu oleh rangsangan dari neuron motorik masuk kebagian paing dalam otot melalui saluran khusus yang meregulasi aktivitas otot. Ketika rangsangan sampai ke ujung presinap, dikeluarkan neurotransmitter berupa asetilkolin kecelah sinap yang kemudian berikatan dengan reseptor si serat otot (post sinap) menyebabkan depolarisasi yang akan memicu potensial aksi. Potensial aksi ini akan segera menyebar ke bagian dalam otot melalui tubus T yang berhubungan langsung dengan reticulum sarkoplasmik (RS). Adanya perubahan pada RS memicu pelepasan Ca2+ menuju sitoplasma yang kemudian berikatan dengan troponin di aktin. Maka proses kontraksi pun dimuai (akan dibahas mendalam pada paragraf berikutnya). Saat rangsangan neuron motorik berhenti maka filamen – filamen otot pun kembali ke posisi semula. Proses relaksasi akan dimulai ketika ion Ca2+ dipompakan secara aktif ke luar sitosol, dalam hal ini digunakan juga ATP. Pembelokiran tropomiosin dari situs pengikatan myosin dipulihkan, kontraksi berakhir dan serat otot bereklaksasi.

Seperti yang dijelaskan di atas, mekanisme kontraksi otot melibatkan filament tebal (myosin) dan filament tipis ( aktin) dikenal dengan teori Pergeseran Filamen. Saat neurotransmitter asetil kolin menempel pada reseptor ujung otot menyebabkan potensial aksi yang dibarengi dengan pelepasan Ca2+  kedalam sel sitoplasma otot. Ca2+ tertambat dengan kompleks triponin yang menyebabkan konfigurasi tropomiosin berubah dalam rangka menyediakan tempat kepala aktin untuk menempel. Pada waktu yang bersamaan kepala myosin terikat ke ATP dan berada pada konfigursi energy rendah. Terjadi hidrolisis ATP menjadi ADP dan berada pada konfigurasi energy tinggi yang mengakibatkan kepala myosin terangkat membentuk titian jembatan silang aktomiosin. Dengan melepaskan gusus posfat pada bagian kepala mengakibatkan keadaan konfigurasi energy rendah, pada akhirnya filament aktin meluncur bergerak kearah tengah sarkomer. Pada kondisi ini menyebabkan pita I dan pita A mendekat dan terlihat pita I memendek. Hal ini terjadi karena filament aktin memasuki zona H (tidak berubah posisi) sehingga terjadi tumpang tindih antara aktin dan myosin, sarkomer memendek san semua myofibril memendek.

Kondisi Filamen Aktin dan Miosin saat berkontraksi. (Sumber : Campbell, Neils. 2008)

RELAKSASI OTOT

Relaksasi dimulai ketika protein membrane memompakan kembali ion Ca2+  ke luar sitosol secara transfort aktif yang membutuhkan ATP (energy), kemudian kepala myosin menarik aktin menjauhi sarkomer. Kepala myosin lepas dari konfigurasi aktomiosin dan siap menghidrolisi ATP untuk memulia kontraksi selanjutnya.

Sintesis protein merupakan proses metabolisme di dalam tubuh makhluk hidup/organisme yang mengubah komponen protein menjadi komponen asam-asam amino tertentu. Adapun tujuan dari sintesis protein yaitu untuk menghasilkan protein spesifik dan protein fungsional.

Sintesis protein dapat terjadi pada makhluk hidup bersel prokariotik dan sel eukariotik. Seperti diketahui bahwa makhluk hidup bersel prokariotik contohnya adalah bakteri/monera, virus, beberapa mikroba lainnya. Sementara itu, makhluk hidup bersel eukariotik misalnya manusia, hewan, tumbuhan, dan ganggang hijau-biru.

Perbedaan sintesis protein pada makluk prokariotik dan eukariotik terletak pada tempat terjadinya transkripsi dan translasi.

1. Sintesis Protein Pada Makhluk Hidup Prokariotik

Pada makluk hidup prokariotik, tempat terjadinya transkripsi DNA dan translasi terjadi pada tempat yang sama, yaitu di dalam sitoplasma. transkripsi DNA akan menghasilkan mRNA (dRNA) yang merupakan promotor untuk mencetak asam-asam amino spesifik saat terjadinya translasi di sitoplasma. mRNA akan menyocokan pasangan triplet basa nitrogennya dengan triplet basa nitrogen yang dibawa oleh tRNA. Setelah dicocokkan, maka akan terbentuklah beberapa jenis asam amino spesifik melalui serangkaian kegiatan translasi. Dalam kegiatan translasi melibatkan tiga proses yaitu: inisiasi, elongasi, terminasi. Akhir dari terminasi adalah terbentuknya polipeptida (serangkaian asam-asam amino spesifik) yang akan digunakan untuk proses pembentukan enzim, hormon, dan lain sebagainya.

2. Sintesis Protein Pada Makhluk Hidup Eukariotik

Pada makhluk bersel eukariotik, maka tempat terjadinya transkripsi DNA dan translasi terjadi pada tempat yang berbeda. Transkripsi DNA terjadi di dalam nukleus (inti sel) menghasilkan pre-mRNA, kemudian pre-mRNA tersebut akan dimatangkan, barulah menjadi mRNA yang sudah matang. mRNA yang sudah matang kemudian akan meninggalkan inti sel melalui pori nukleus menuju ke sitoplasma. Di sitoplasma inilah mRNA akan mengalami proses translasi, dimana translasi mRNA melibatkan tRNA dan rRNA. tRNA berperan dalam membawa asam amino spesifik yang akan menyocokkan triplet basa nitrogennya dengan mRNA yang berjejer. Setelah menyocokkan pasangan triplet kodonnya, maka akan terbentuklah asam-asam amino spesifik dalam bentukan peptida-peptida.

herbarium kering tumbuhan paku

Cara, Teknik, Metode/Langkah-Langkah Publikasi Ilmiah dari Penemuan Takson

Apabila seseorang menemukan takson yang diperkirakan belum dipublikasikan, maka harus membuat publikasi secara tertulis, disertai dengan herbarium dan pertelaan dalam bahasa latin atau bahasa Inggris. Kemudian, dipublikasikan ke instansi-instansi yang penelitiannya berkaitan dengan soal tumbuh-tumbuhan atau taksonomi tumbuhan. Publikasi ini dari tingkat daerah setempat, setelah itu dikirim ke provinsi lain yang ada di Indonesia dan tidak ada sanggahan, sehingga dapat dikirim ke Puslitbang Biologi terutama Botani Internasional yang terkenal, yaitu Belanda, Inggris, Amerika, Thailand, Vietnam, Filipina, Australia, dll.

contoh herbarium
herbarium kering

Kerjasama Antar Herbarium di Seluruh Dunia

Diseluruh dunia terdapat lebih dari 2500 herbarium (2639) yang tersebar di 147 negara. Dari sekian banyak herbarium itu informasi yang dapat diberikan tentang masing-masing lembaga itu ialah:

  1. Nama dan alamat lembaga masing-masing
  2. Afiliasinya
  3. Singkatan namanya (akronim) atau kode untuk penunjuukannya
  4. Nomor telepon
  5. Alamat untuk telegram
  6. Faksimil (fax)
  7. Kedudukan (setatus) pemerintah atau suasta
  8. Tahun didirikan
  9. Daftar koleksi yang penting
  10. Jumlah specimen
  11. Kemungkinan untuk mengadakan tukar menukar
  12. Informasi mengenai prosedeur tukar menukar dan peminjaman bahan-bahan kioleksi
  13. Ada atau tidaknya kebun raya sebagai lembaga yang mendampingi herbarium itu
  14. Daftar nama pimpinan dan staf ahli lengkap dengan biodata dan spesialisasi masing-masing
  15. Penerbitan (berkala yang teratur datau tidak teratur) dan karya-karya lain yangt pernah dipublikasikan
herbarium kering tumbuhan paku
contoh herbarium kering pada tumbuhan

SUMBER RUJUKAN:

Hasnunidah, Neni. 2009. Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung: FKIP  Universitas Lampung.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Umum. Yogyakarta: Universitas  Gajah Mada

herbarium

Garis besar ketentuan-ketentuan untuk mengumpulkan data adalah pengambilan sampel dan pengukuran. Pengambilan sampel biasanya dilakukan di lapangan. Sebelumnya peneliti harus mempunyai tujuan yang jelas mengenai apa yang diinginkan hingga dapat menyelesaikan dengan baik. Pertanyaan yang harus dijawab sebelum pengambilan sampel adalah: bagian mana dari tumbuhan yang akan diambil sampelnya, berapa banyak pengambilan sampel tersebut, dan teknik/cara/metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan tumbuhan.

Studi taksonomi tumbuhan harus didasarkan pada bahan yang riil/specimen. Suatu specimen dapat berupa tubuh tumbuhan yang lengkap, yang terdiri dari bagain vegetatif (akar, batang+cabang, daun), dan bagian-bagian generatif (bunga dan buah) untuk tumbuhan spermatophyta, atau dapat pula bagian vegetatif dan generatif tumbuhan spora (cryptogamae). Specimen yang digunakan untuk studi taksonomi dapat berupa bahan tumbuhan segar yang masih hidup, atau bahan tumbuhan yang telah diawetkan (herbarium).

herbarium kering
Contoh herbarium kering (oleh Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Lampung)

Cara pengumpulan bahan tumbuhan untuk studi taksonomi diperlukan berbagai peralatan diantaranya adalah :

  1. Gunting atau pisau pangkas, untuk mengambil bahan tumbuhan yang diperlukan
  2. Tromol botani, kaleng Schweinfurth atau wadah lain untuk mewadahi bahan tumbuhan yang diperlukan.
  3. Kertas Koran bekas atau kertas lain yang mempunyai kemampuan untuk menyerap lengas.
  4. Alat pengepres, tumbuhan yang sudah disiapkan untuk dipres dengan kertas – kertas pelapisnya ditempatkan diantara dua ancak lalu diikat dengan tali menyilang.
  5. Alkohol-absolut atau kandungan etanol yang sangat tinggi
  6. Selotip, untuk menyegel kaleng Schweinfurth agar alkoholnya tidak habis menguap yang digunakan untuk menandai masing – masing specimen.
  7. Teropong binokuler, untuk melihat dari jarak jauh misalnya untuk mengamati alat – alat reproduksi pada tumbuhan – tumbuhan yang tinggi besar.

Dilihat dari segi jarak dan waktu untuk mencapai tempat yang dituju untuk mendapatkan bahan herbarium baru dibedakan dalam dua macam :

  1. Tempatnya relatif dekat yang tidak memerlukan waktu lama sehingga pemrosesan bahan untuk pengawetan dapat dilakukan ditempat kerja atau lembaga penelitian taksonomi.
  2. Koleksi ditempat yang jauh, biasanya suatu perjalanan ekspedisi khusus untuk pengadaan specimen dalam ranggka studi taksonomi baik yang dilakukan diwilayah dalam negeri sendiri maupun di luar.
herbarium
Herbarium kering (oleh Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Lampung)

Teknik pembuatan herbarium kering sebagai berikut :

  • Specimen terlebih dahulu dikeringkan dengan meletakkannya diatas lembaran kertas yang cukup tebal berukuran kira – kira 28,5 cm x 41 cm kemudian dilanjutkan dengan pengepresan.
  • Bahan tadi dipres antara kertas dengan menggunakan bilah bambu atau kayu – kayu .
  • Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari bila cuaca cerah.  Sedangkan bila cuaca tidak menguntungkan, sumber panas api dari pembakaran arang atau kayu bakar.  Pengeringan yang paling aman adalah dengan alat pengering yang dilengkapi dengan thermostat yang suhunya dapat diatur.
  • Herbarium yang telah kering ditempel pada kertas tebal dengan ukuran tertentu.  Penempelan dapat menggunakan lem perekat diseluruh bahan permukaan atau dengan selotip yang direkatkan, asal cukup menahan bahan jangan sampai terlepas.
  • Bahan tumbuhan dari golongtan lumut biasanya setelah dikeringkan lalu dimasukkan kedalam amplop dengan ukuran tertentu, kemudian ditata dalam sebuah laci seperti dalam penyimpanan arsip.
  • Bahan – bahan dari golongan jamur yang dikoleksi adalah tubuh buahnya, sehingga dikeringkan begitu saja tanpa pengepresan, setelah kering disimpandalam kardus atau karton atau disimpan sebagai herbarium basah.
  • Pemasangan etiket atau label yang berisi informasi yang diperoleh dari tumbuhan yang telah dikeringkan.  Etiket memuat judul dan nama lembaga yang memilikinya, selain itu memuat data – data : nomor urut, nama kolektor, data taksonomi, nama jenis,tempat pengambilan bahan, habitat, data ekologi jika perlu, data lain yang dianggap perlu dicatat seperti kegunaan dalam tradisi setempat.
  • Koleksi yang telah diawetkan disimpan dalam wadah atau kotak dari kaleng yang ditempatkan di rak – rak atau lemari kabinet tahan api.  Bagian tumbuhan yang ukurannya besar diletakkan begitu saja dalam keadaan utuh di rak atau meja yang telah diberi etiket.

Pemrosesan untuk menjadikan koleksi awetan sebagai herbarium basah sebagai berikut:

  1. Spesimen yang telah diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda (misalnya : alcohol dan formalin). Penggunaan alcohol akan selalu berakibat hilangnya warna asli tumbuhan, sedangkan formalin bersifat mengeraskan jaringan tumbuhan namun tidak terlalu besar daya larutnya terhadap warna-warna yang terdapat pada tumbuhan.
  1. Spesimen diletakkan dalam bejana-bejana transparan dan tahan pengaruh kemikalia, diberi tutup rapat kedap udara dan air. Pada wadah itu juga ditempel label atau etiket yang memuat informasi seperti yang dibuat terhadap herbarium kering.
  1. Bahan tumbuhan yang sering dijadikan herbarium basah adalah: bahan-bahan yang ukurannya kecil sehingga jika dikeringkan mudah terlepas dan jika dipres akan kehilangan ciri-cirinya; bahan tumbuhan dari jenis tumbuhan yang hidup di air atau yang mempunyai kadar air tinggi seperti ganggang dan jamur.

Pada dasarnya semua bahan tumbuhan dapat dijadikan herbarium basah namun hal itu tidak dilakukan karena hal-hal berikut:

  1.       Biaya pembuatan yang terlalu tinggi seperti untuk larutan pengawet dan wadah yang digunakan
  2. Memerlukan tempat untuk meletakkan spesimen-spesimen yang kokoh atau ruang untuk penyimpanan yang lebih luas
  3.  Penanganan harus secara lebih hati-hati untuk menghindari pecdahnya wadah dan tumpahnya larutan pengawet.

Perlakuan Khusus untuk Mencegah Serangga dan Jamur

Bahan-bahan tumbuhan yang telah diawetkan melalui pengeringan sebelum atau sesudah ditempel pada kertas herbarium atau dimasukkan dalam amplop atau wadah lain untuk disimpan, biasanya mendapatkan perlakuan tambahan untuk bertujuan mencegah gangguan serangga dan jamur selama disimpan. Dahulu, dalam lemari atau wadah simpanan herbarium lazim diberikan naftalin atau kamper,atau dilakukan fumigasi dengan menggunakan gas sianida, paradiklor benzen,campuran diklorit etilen dengan tetra klorit karbon,DDT atau CS2. Perlakuan ini dapat diulang setelah waktu yang cukup lama. Sekarang,dalam rangka pencegahan gangguan serangga dan jamur,bahan tumbuhan yang telah dikeringkan terlebih dahulu dicelupkan kedalam larutan sublimat (HgCl) yang jenuh, baru setelah menjadi kering kembali ditempel atau ditempatkan dalam wadah untuk disimpan.

SUMBER REFERENSI:

Hasnunidah, Neni. 2009. Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung: FKIP Universitas Lampung.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Umum. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Ariyanti, Esti E. 2008. Herbarium. Diunduh pada 13 Desember 2016, pkl. 05.22 WIB, pada situs website: http://www.krpurwodadi.lipi.go.id/herbarium.php.

jaringan meristem

Jaringan meristem adalah jaringan yang tersusun dari sel-sel muda yang masih aktif melakukan pembelahan (bersifat embrional). Jaringan meristem memiliki dinding sel tipis, banyak mengandung lignin, ukuran sel seragam dan kadang-kadang tidak seragam, sitoplasma banyak. Jaringan meristem terletak di ujung akar dan ujing batang tanaman muda.

pada ujung akar, sel-sel meristem masih terus melakukan pembelahan sel sampai sel tersebut mengalami tingkat pertumbuhan ke arah yang lebih dewasa. Sementara itu, pada ujung batang, cikal bakal jaringan meristematik akan mampu memunculkan kemungkinan tunas di ujung batang dan tunas samping pada batang.

 

jaringan meristem
Jaringan meristem pada tumbuhan

Jaringan meristem hampir ada pada sebagian besar tanaman dikotil maupun monokotil.

Latar Belakang Fisiologis Tumbuhan

Ilmu tentang sel sangat mendasar dalam mempelajari fisiologi tumbuhan. Tumbuhan termasuk organisme multiseluler yang terdiri dari berbagai jenis sel terspesialisasi yang bekerja sama melakukan fungsinya. Sel tumbuhan meliputi berbagai organel seperti dinding sel, sitoplasma, membran plasma, retikulum endoplasma, badan golgi, vakuola, badan mikro, sferosom, rangka sel, ribosom, mitokondria, plastida dan nukleus. Masing-masing organel memiliki struktur dan fungsi yang berbeda. Fotosintesis, metabolisme, pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan merupakan aktivitas sel-sel tumbuhan. Misalnya organel plastida yang berperan dalam fotosintesis tumbuhan.

Pisang Muli
Pisang Muli

Tumbuhan tingkat tinggi tubuhnya tersusun oleh sejumlah sel, baik sel hidup maupun sel mati. Sel-sel hidup memiliki persamaan dan perbedaan dalam struktur dan fungsinya. Persamaannya adalah sel itu mempunyai dinding sel, terisi plasma yang terbungkus oleh membran plasma. Sedangkan perbedaannya terutama diakibatkan oleh lingkungan dan faktor genetik, yaitu akibat proses diferensiasi yang mengikuti proses pembelahan sel.

Pemahaman tentang sel tumbuhan diperlukan dalam bahasan fisiologi tumbuhan selanjutnya.

Jika ditinjau dari ada atau tidak adanya membran itu, maka organisme di dunia ini dikelompokan dalam organisme bersel eukariotik dan sel prokariotik. Keduanya memiliki perbedaan struktur dan morfologi yang nampak jelas. Pada sel eukariotik (hewan, tumbuhan, manusia, jamur) tentu saja mempunyai membran inti, sehingga proses sintesis protein dilakukan di tempat yang berbeda. Transkripsi DNA dilakukan di nukleus (inti sel) dan menghasilkan mRNA/dRNA. Kemudian sintesis protein akan terjadi di sitoplasma. Sementara itu, pada makhluk hidup bersel prokariotik (bakteri) memiliki ciri khusus yaitu tidak memiliki membran inti/nukleus, sehingga proses sintesis protein dilakukan di tempat yang sama yaitu di sitoplasma/sitosol. Pemrosesan mRNA dari DNA double helix dilakukan di sitoplasma, begitupun ketika terjadinya sintesis protein juga di sitoplasma.

Berikut ini nilai Ujian Tengah Semester Biologi kelas X IPA SMA Yadika Natar T.A 2018/2019:

NO. UJIAN NILAI KETERANGAN
001 64 REMEDIAL
002 70 LULUS
003 64 REMEDIAL
004 50 REMEDIAL
005 55 REMEDIAL
006 64 REMEDIAL
007 53 REMEDIAL
008 54 REMEDIAL
009 60 REMEDIAL
010 78 LULUS
011 40 REMEDIAL
012 43 REMEDIAL
013 40 Remedial
014 79 LULUS
015 81 LULUS
016 73 LULUS
017 37 REMEDIAL
018 76 LULUS
019 76 LULUS
020 50 REMEDIAL
021 60 REMEDIAL
022 80 LULUS
023 86 LULUS
024 70 LULUS
025 55 REMEDIAL
026 64 REMEDIAL

NB:

  • Bagi Siswa yang belum tuntas/remedial, silakan bisa mengikuti kegiatan remedial biologi sesuai jadwal yang diberikan oleh panitia ujian (Hubungi Ibu Viska Devina)
  • Untuk melihat nilai murni yang sudah dikoreksi (berkas ujian/nilai asli) dapat langsung menemui pak Wahid setelah ujian selesai
  • Terimakasih.

Berikut ini nilai Ujian Tengah Semester (UTS) Biologi kls XI IPA SMA Yadika Natar T.A 2018/2019:

NO. UJIAN NILAI KETERANGAN
001 66 REMEDIAL
002 97 LULUS
003 88 LULUS
004 79 LULUS
005 80 LULUS
006 60 REMEDIAL
007 72 LULUS
008 80 LULUS
009 58 REMEDIAL
010 64 REMEDIAL
011 84 LULUS
012 95 LULUS
013 81 LULUS
014 89 LULUS
015 73 LULUS
016 79 LULUS
017 82 LULUS
018 50 REMEDIAL
019 81 LULUS
020 86 LULUS
021 85 LULUS
022 58 REMEDIAL

NB:

  • Bagi Siswa yang belum tuntas/remedial, silakan bisa mengikuti kegiatan remedial biologi sesuai jadwal yang diberikan oleh panitia ujian (Hubungi Ibu Viska Devina)
  • Untuk melihat nilai murni yang sudah dikoreksi (berkas ujian/nilai asli) dapat langsung menemui pak Wahid setelah ujian selesai
  • Terimakasih.

Untuk nilai Ujian Tengah Semester (UTS) Biologi kls XII IPA silakan bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

NO. UJIAN NILAI KETERANGAN
001 95 LULUS
002 95 LULUS
003 62 REMEDIAL
004 56 REMEDIAL
005 97 LULUS
006 86 LULUS
007 65 REMEDIAL
008 76 LULUS
009 97 LULUS
010 92 LULUS
011 95 LULUS
012 62 REMEDIAL
013 85 LULUS
014 85 LULUS
015 73 LULUS
016 57 REMEDIAL
017 91 LULUS
018 72 LULUS
019 70 REMEDIAL
020 72 LULUS
021 57 REMEDIAL
022 76 LULUS
023 75 LULUS
024 60 REMEDIAL
025 69 REMEDIAL
026 50 REMEDIAL
027 72 LULUS
028 90 LULUS
029 85 LULUS
030 68 REMEDIAL
031 64 REMEDIAL
032 74 LULUS
033 63 REMEDIAL

NB:

  • Bagi Siswa yang belum tuntas/remedial, silakan bisa mengikuti kegiatan remedial biologi sesuai jadwal yang diberikan oleh panitia ujian (Hubungi Ibu Viska Devina)
  • Untuk melihat nilai murni yang sudah dikoreksi (berkas ujian/nilai asli) dapat langsung menemui pak Wahid setelah ujian selesai
  • Terimakasih.