KLOROSIS PADA DAUN DITINJAU DARI ASPEK SEL, HUBUNGAN TUMBUHAN DAN AIR, SERTA NUTRISI PADA TUMBUHAN

Ditinjau dari tumbuhan dan air, Semua sel pada tumbuhan hidup membutuhkan jumlah air yang cukup dan jumlah hara organik dan anorganik yang seimbang untuk kelangsungan hidup dan berjalannya fungsi-fungsi fisiologis. Tumbuhan menyerap air dan hara anorganik atau dalam hal ini mineral dari dalam tanah melalui system perakaran. Zat-zat tersebut biasanya ditranslokasikan ke atas melalui pembuluh kayu pada batang dan terus ke ikatan vaskuler tangkai daun dan tulang daun, dari sinilah zat-zat tersebut masuk ke dalam sel-sel daun.

Mineral dan sebagian air tersebut digunakan oleh daun dan sel-sel sekitarnya untuk mensintesis berbagai zat tumbuhan, tetapi sebagian besar air tersebut mengalami evaporasi dari sel-sel daun ke ruang interseluler dan dari sinilah terdifusi ke atmosfer melalui stomata pada daun. Dilain pihak, hampir seluruh hara organik tumbuhan dihasilkan dalam sel-sel daun, melalui proses fotosintesis, dan kemudian ditranslokasikan ke bagian bawah dan didistribusikan ke seluruh sel tumbuhan hidup yang umumnya melalui jaringan pembuluh tapis. Jika seandainya pergerakkan air ke daun terhalang, maka daun tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, fotosintesis akan berkurang, terhambat atau bahkan terhenti.

Tanaman pare dengan daun yang sehat hijau tanpa klorosis
Tanaman pare dengan daun yang sehat hijau tanpa klorosis

Terkait dengan nutrisi pada tumbuhan, bahwa unsur  hara yang menjadi nutrisi penting bagi tumbuhan ternyata tidak pernah lepas dalam kehidupan tumbuhan. Unsur hara tersebut selalu disuplai terus-menerus selama tumbuhan itu masih hidup. Ada 16 unsur hara esensial terpenting dalam tumbuhan. Biasanya, jika suatu tumbuhan kekurangan unsur hara akan berpengaruh terhadap proses tumbuh dan berkembangnya organ-organ vital yang ada. Semisal jika suatu tumbuhan tertentu kekurangan unsur Magnesium, Nitrogen, Posfor dan Kalium, bisa saja pada helaian daunnya menjadi berwarna hijau pucat yang selanjutnya berubah menjadi kuning dan kemudian mati. Karena pada unsur Mg terutama merupakan bagian penyusun molekul klorofil, baik itu penyusun klorofil a maupun klorofil b. Selain itu, pada unsur Mg merupakan penyusun dinding sel dalam bentuk senyawa magnesium pektat dan kalsium pektat.

Dengan demikian, unsur Magnesium sangatlah membantu dalam pembelahan sel dan penyelenggaraan fotosintesis. Unsur magnesium memiliki persamaan dengan unsur besi (Fe), apabila dilihat dari gejala “DEFISIENSI” pada tumbuhan tertentu. Oleh karena itu, Magnesium merupakan bagian dari sistem enzim yang memadatkan asam amino terlarut menjadi protein, sedangkan Fe merupakan unsur enzim yang mengatur dalam proses respirasi dan pembentukkan klorofil. Maka dapat disimpulkan bahwa Mg berperan dalam proses fotosintesis, sedangkan pada Fe selain berperan dalam fotosintesis juga pada respirasi. Kedua unsur ini sifatnya stabil di dalam sel tumbuhan. Kahat Mg dan Fe terlihat pada daun muda. Pada helai daun di antara tulang daun berwarna hijau pucat atau kuning, sedangkan tulang daunnya tetap hijau. Kahat Mg juga memperlihatkan kematian atau nekrosis pada bagian tengah daun, sedangkan kahat Fe memperlihatkan gejala nekrosis pada semua bagian antar tulang daun. Perlu diingat bahwa tumbuhan menyerap Mg dan Fe dalam bentuk ion. Ketersedianya kedua unsur ini tergantung pada nilai keasaman tanah (pH tanah).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *