Merkuri Elemental, Merkuri Inorganik, dan Merkuri Organik (Toksikologi)

Posted on
    Merkuri merupakan salah satu bagian dari bahan kimia yang juga memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pemaparan merkuri yang terjadi di sekitar organ tubuh manusia dapat memberi efek buruk bagi kesehatan. Selain itu, beberapa hewan juga dapat mengalami gejala penyakit apabila terpapar oleh merkuri dalam kurun waktu yang cukup lama.
    Merkuri biasanya digunakan sebagai bahan pelengkap kosmetik, sehingga jika penggunaan merkuri yang ditambahkan pada bahan kosmetik berlebih maka berpeluang menimbulkan penyakit seperti kanker kulit, kulit menjadi lebih kusam, sebab terdampak dari bahan bahaya yang terkandung di dalam merkuri. 
      Merkuri sendiri terbagi menjadi 3 golongan penting, yakni Merkuri elemental, merkuri inorganik, dan merkuri organik. Sebagai pembahasan lengkapnya, silakan baca penjelasannya pada bagian di bawah ini:
A.   Merkuri  elemental
Pemaparan
akut:
Inhalasi  gas 
merkuri dapat menyebabkan bronkhitis 
korosif yang disertai febris, menggigil, dispnea, hemoptisis, pneumonia,
edema paru  (Adult Respiratory Distress
Syndrome), sianosis bahkan fibrosis paru. 
Keluhan  gastrointestinal  berupa: mual, muntah, ginggivitis,  keram perut dan diare. Kerusakan sistim
syaraf pusat berupa kelainan neuropsikiatrik (erethism), tremor, iritabilitas,
emosi yang labil, hilang ingatan, cemas, depresi. sakit kepala, reflek abnormal
dan  perubahan EEG.  
Rash kemerahan dengan deskuamasi kulit  terutama pada tangan dan kaki  dijumpai terutama  pada anak-anak. Kelainan pada ginjal dapat
berupa proteinuria, kelainan elektrolit urine, disuria dan sakit
ejakulasi.  Efek psikiatri berupa
depresi, perasaan malu, marah, iritabilitas, cemas, nafsu makan menurun  atau agresif.
Pemaparan
merkuri melalui  intravena dapat
menyebabkan emboli paru-paru  dengan
hemoptysis dan pada foto thorax dijumpai densitas metalik. Granulomas dapat
terbentuk setelah injeksi merkuri elemen.
Pemaparan
kronis
menimbulkan
triad yang klasik, yaitu: ginggivitis dan salivasi,  tremor dan perubahan neuropsikiatri. Gangguan
psikiatri berupa depresi, perasaan malu, marah, cemas,  iritabilitas, agresif,  hilang ingatan, hilangnya kepercayaan diri,
sukar tidur, tidak nafsu makan atau tremor ringan. Selain itu dapat dijumpai
kelainan pada ginjal berupa proteinuri (merry, 2004). 
B.     Merkuri  Inorganik
Pemaparan
akut
Setelah menelan zat
ini  timbul gejala iritasi mukosa berupa
stomatitis, rasa logam, rasa panas, hipersalivasi, edema laring,  erosi oesofagus,  mual, muntah, hematemesis, hematokhezia,  keram perut, 
ARDS,  shock dan gangguan ginjal
berupa proteinuri, hematuri dan glikosuri. Gagal ginjal akut dapat terjadi
dalam 24 jam. Perdarahan gastrointestinal 
dapat menyebabkan anemia dan syok hipovolemi. 
Kontak pada kulit
akibat penggunaan krem yang mengandung garam merkuri dapat menimbulkan
pigmentasi,  rasa terbakar dan dapat
menyebabkan toksisitas sistemik.  HgCl2
dapat menyebabkan iritasi kulit sedangkan merkuri fulminat dan  merkuri sulfida menyebabkan  dermatitis kontak.
Penggunaan calomel
(HgCl)  dapat menyebabkan Pink’s disease
pada anak-anak  yang ditandai: rash
eritematosus, febris, splenomegali, iritabilitas dan hipotonia. 
Pemaparan kronis

Menimbulkan triad yang
klasik, yaitu: ginggivitis dan salivasi, 
tremor dan perubahan neuropsikiatri Aplikasi garam merkuri  pada kulit dalam jangka waktu yang lama dapat
menyebabkan neuropati perifer, nefropati, 
eritema, dan pigmentasi (merry,2004).
C.     Merkuri
Organik
Pemaparan akut
a.    Menyebabkan
iritasi gastrointestinal  berupa  mual, muntah, sakit perut dan diare. Keracunan
Phenyl mercury (merkuri aromatis) menimbulkan gejala-gejala gastrointestinal,
malaise, mialgia dan syndrome mimic viral. 
b.   Keracunan  metil merkuri menyebabkan  efek  
pada gastrointestinal yang lebih ringan tetapi menimbilkan toksisitas
neurologis yang berat berupa:  rasa sakit
pada bibir, lidah dan pergerakan (kaki dan tangan ), konfusi,  halusinasi, iritabilitas, gangguan tidur,
ataxia,  hilang ingatan, sulit bicara,
kemunduran cara berpikir, reflek tendon yang abnormal, pendengaran rusak,
lapangan penglihatan mendekati konsentris, emosi tidak stabil, tidak mampu
berpikir, stupor, coma dan kematian (Clarkson, 1990 ; Marsh et al, 1987 dalam
merry 2004). 
Pemaparan kronis 
Menyebabkan suatu
sindroma yang kronis. Penelanan kronik bentuk alkil yantai pendek (metil
merkuri) menyebabkan disartria, parestesi, ataxia dan tuli. Dapat pula terjadi
Tunnel vision dan skotoma multipel  atau
erethism.    
Keracunan  Fenil merkuri dan methoxyethil  merkuri menimbulkan  gangguan yang sama dengan pemaparan kronis
merkuri inorganic (merry, 2004).
Salah
satu penyakit yang popular akibat terpapar merkuri adalah penyakit minamata atau Sindrom
Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang
disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi
kemampuan berbicara dan pendengaran. Pada tingkatan akut, gejala ini biasanya
memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati.

Dalam Wikipedia Indonesia, dijelaskan bahwa penyakit ini mendapat namanya dari kota Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang, yang merupakan daerah di mana penyakit ini mewabah mulai tahun 1958.
Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Minamata Jepang.
Ratusan orang mati akitbat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan syaraf.
Mengetahui hal tersebut, para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus segera
di amati dan di cari penyebabnya. 
Melalui pengamatan yang mendalam tentang
gejala penyakit dan kebiasaan orang jepang, termasuk pola makan kemudian
diambil suatu hipotesis. Hipotesisnya
adalah bahwa penyakit tersebut mirip orang yang keracunan logam berat. Kemudian
dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang Jepang mempunyai kebiasaan
mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak. 
Dari hipotesis dan kebiasaan pola
makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah ikan-ikan
di Teluk
Minamata
banyak mengandung
logam berat (merkuri). Kendian di
susun teori bahwa penyakit tesebut diakibatkan oleh keracunan logam merkuri
yang terkandung pada ikan. Ikan tesebut mengandung merkuri akibat adanya orang
atau pabrik yang membuang merkuri ke laut. 
Penelitian berlanjut dan akihirnya
ditemukan bahwa sumber merkuri berasal dar pabrik batu baterai Chisso. Akhirnya pabrik tersebut ditutup dan harus
membayar kerugian kepada penduduk Minamata kurang lebih dari 26,6 juta dolar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *