Macam Serta Penggolongan Vitamin B Kompleks (B1-B12)

Posted on

Vitamin B sama halnya dengan vitamin C yaitu dapat larut dalam air. Vitamin ini dibedakan lagi dalam
beberapa golongan, diantaranya sebagai berikut:
      1.      Vitamin B1 (Tiamin/Anti Beri-Beri/Aneurin)
Sumber vitamin B1
ini  banyak terdapat pada beberapa jenis
buah-buahan, sayur-sayuran, serta sedikit pada protein nabati dan hewani
semisal pada hati, ginjal, otak, susu, kuning telur, kulit ari padi dan gandum,
wortel, serta ragi/pada tempe dan tape. Fungsi vitamin B1 untuk membantu dalam
metabolisme karbohidrat, mempengaruhi keseimbangan air di dalam tubuh, serta
mempengaruhi penyerapan zat lemak dalam tubuh,membuat rambut agar tidak cepat
beruban, pencegah beri-beri, dan lain-lain. Sedangkan apabila tubuh kekurangan
dari vitamin ini akan terjadi defisiensi seperti penyakit beri-beri, neuritis,
serta gangguan pada beberapa sistim transportasi cairan tubuh. Kebutuhan normal
vitamin ini 1-2 mg per hari.
      2.      Vitamin B2 (Riboflavin/Laktoflavin)
Vitamin ini dalam tubuh digunakan untuk membantu
pemindahan sumber rangsang sinar cahaya ke syaraf mata, sebagai bagian dari
enzim yang berguna dalam proses oksidasi di dalam sel-sel tubuh/jaringan, serta
berguna dalam pernafasan sel.  Dan sumber
dari vitamin ini banyak terdapat pada makanan beragi, telur unggas, hati,
ginjal, jantung, dan otak, serta sayur kacang panjang, dan sedikit pada kubis.
Kekurangan vitamin ini pada tubuh juga dapat mengganggu pada penglihatan
(rabun), menyebabkan katarak dan keratitis pada mata, skeilosis/luka pada sudut
bibir, serta gangguan pada proses pertumbuhan. Kebutuhan normal penggunaan
vitamin ini dalam sehari adalah 1,6 mg/hari.
      3.      Vitamin B3 ( Asam Nikotin/Niasin)
Vitamin ini dalam tubuh digunakan dalam proses
pertumbuhan dan perbanyakan sel, penting dalam perombakkan karbohidrat,
protein, dan lemak, serta mencegah dari penyakit pelagra spesifik seperti sakit
pada tenggorokan, lidah, dan mulut, yang ditandai dengan gejala 3 D:
·        
Dermatitis, kulit
kemerahan, lalu mengelupas dan pecah-pecah, eksema yang simetris pada bagian
kiri dan kanan tubuh yaitu dijumpai pada bagian tubuh yang tidak tertutupi
seperti tangan, lengan, siku, kaki, serta leher. Serta mencegah anemia/kurang
darah;
·      Diare, buang
air yang terus-menerus dan biasanya terjadi pendarahan di gusi dan usus.
Biasanya efek ini/diare juga terjadi akibat kekurangan mineral seperti kurang
idealnya kerja mineral natrium dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh
(terjadi imbalance); serta
·       Demensia, atau
biasanya terjadi depresi/stress mental, yang ditandai dengan pelupa, cepat
letih saat bekerja, dan sering melamun.
Sumber dari vitamin ini banyak terdapat pada hati hewan
ternak, minyak ikan, susu, kubis/bunga kol, tomat, ragi, kedelai, kacang hijau,
bayam, rebung, dll. Untuk
kebutuhan normal konsumsi vitamin ini perhari yaitu 100 mg/hari.
 
      4.      Vitamin B6 (Piridoksin/Adermin)
Vitamin B6 sangat berguna sekali dalam pembuatan
sel-sel darah, serta membantu dalam kontraksi otot, serta pertumbuhan dan
pekerjaan urat syaraf. Kekurangan vitamin ini dapat menimbulkan gejala pelagra,
anemia akut, dan obstipasi (gejala sukar buang air besar), gejala kulit rusak,
syaraf motorik terganggu, dan kelainan pada darah. Vitamin ini banyak terdapat
pada hati, ikan laut/tawar, daging, dan semua jenis sayur-sayuran hijau
terutama pada bayam yang kaya akan zat mineral Fe/zat besi dan kalium (K).
      5.      Asam Pentatonat
Berfungsi sebagai bahan pelengkap koenzim A, senyawa yang
berperan dalam proses oksidasi ketika proses pencernaan makanan berlangsung di
lambung. Dan apabila tubuh kekurangan asam pentatonat maka akan mengganggu
sistim saluran pencernaan lainnya, dermatitis, dan interitis/luka pada dinding
usus. Kekurang vitamin ini biasanya disebabkan karena kurang baiknya penyerapan
dan kekurangan makanan yang dikonsumsi, seperti daging, madu,
buah-buahan/sayuran-sayuran hijau.
      6.      Para Amino Dan Asam Benzoat
Digunakan oleh tubuh dalam rangka mencegah timbulnya
uban, sumber terdapat pada hati dan makanan yang beragi.
      7.      Kolin
Berfungsi sebagai pencegah penimbunan lemak di sekeliling
organ hati, serta mencegah gangguan pada kulit dan nefron ginjal. Sumber
terdapat pada hati dan beras.
      8.      Vitamin H Atau Biotin
Sumbernya terdapat pada ragi, kentang, jamur tiram, hati,
ginjal, sayuran dan buah-buahan segar. Kekurangan vitamin ini dapat menimbulkan
gangguan pada kulit serta memicu timbulnya pelagra pada kulit.
      9.      Vitamin B11 (Asam Folin Atau Asam Folium)
Berfungsi dalam pertumbuhan sel-sel eritrosit, mencegah
antipernisiosa, anemia akut. Sumber banyak terdapat pada sayuran dan
buah-buahan segar, serta pada hati dan ginjal ternak.
      10. 
Vitamin B12 (Sianokobalamin)
Vitamin B12 ini juga dikenal sebagai anti
pernisiosa. Berfungsi sebagai koenzim yang penting dalam metabolisme asam
amino, juga berperan dalam merangsang pembentukan sel-sel darah
merah/eritrosit. Kekurangan vitamin ini biasanya dapat menimbulkan anemia,
pendarahan yang sulit membeku, pusing, dan mudah lelah saat beraktivitas.
Sumber vitamin ini terdapat pada hati, minuman teh, gandum/bulir biji-bijian
padi dan sejenisnya, serta terdapat pada buah-buahan, terutama misalnya pisang,
apel, dan mentimun.
      11.  Asam Folat
Folasin adalah istilah umum untuk menerangkan
senyawa-senyawa yang memiliki aktivitas biologis asam folat; sedangkan gugus
senyawa gugus senyawa yang memiliki struktur kimia spesifik disebut folat.
Folat alamiah yang mengandung residu asam glutamat ekstra disebut poliglutamat.
Poliglutamat ini merupakan bentuk fisiologis aktif dari koenzim folat. Absorpsi
folasin alamiah dari saluran pencernaan dapat terjadi bila poliglutaamat
dihidrolisis menjadi bentuk monoglutamat oleh suatu enzim yang disebut
”konjugase”. Hampir seluruh bentuk folat peka terhadap oksidasi dan harus
dilindungi oleh senyawa pereduksi.
Ketersediaan biologis folasin dalam makanan bervariasi
dari 25 sampai 95 persen. Bila folasin ditambahkan dalam bahan makanan, hanya
50 persen yang diabsorpsi. Penilaian terhadap status gizi folat dilaksanakan
dengan mengukur kadar folat dalam plasma dan sel-sel darah merah. Hal ini
dilakukan secara tradisional dengan pengukuran folasin secara mikrobiologis.
Akhir-akhir ini cara radiossay pengikatan-kompetitif telah berkembang dan dapat
menentukan kadar folat lebih cepat dan dewasa 100 µg serta untuk ibu-ibu
menyusui dan ibu-ibu hamil. Jumlah folasin yang tersedia dari hati sapi yang
dimasak sebanyak 50 persen, bayam 63 persen, kubis 47 persen, kecambah gandum
10 persen, dan pisang 82 persen. Folasin dibutuhkan untuk mencegah agar bayi
yang ada dalam kandungan seorang ibu hamil menjadi sehat.
Sumber referensi pendukung:

  • Achadi, E. L. 2007. Gizi dan Kesehatan
    Masyarakat
    . Depok: Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
    Masyarakat Universitas Indonesia.
  • Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia   Pustaka Utama.
  • Belsey, M.A, dkk. 1994. Pemaduan
    Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dengan Pemeliharaan Kesehatan Dasar
    . Jakarta: Binarupa Aksara.
  • J, Sutrisno S. 1995. Masyarakat Yang
    Sehat
    . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Karyadi, Darwin dan Muhilal. 1990.
    Kecukupan Gizi yang Dianjurkan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Khumaidi. M. 1994. Gizi Masyarakat.
    Bogor: PT. BPK Gunung Mulia.
  • Khomsan, A. 2006. Solusi Makanan Sehat. Jakarta : PT
    Rajagrafindo.
  • Pearce, Evelyn.
    1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia
    Pustaka Utama.
  • Sajogyo,dkk. 1994. Gizi Baik yang
    Merata
    . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Sediaoetama, A.D. 2008. Ilmu Gizi.
    Jakarta: Dian Rakyat.
  • Suhardjo dan Kusharto, C.M. 1992.
    Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Kanisius. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *