Fungsi, Kegunaan Serta Manfaat Vitamin A (Aseroftol) Bagi Kesehatan Tubuh

  • Aseroftol atau lebih dikenal dengan Vitamin A merupakan jenis vitamin yang mudah larut dalam lipid/lemak/gliserol. Vitamin A dalam tubuh digunakan untuk
    pertumbuhan sel-sel epitelium yang menyelimuti seluruh tubuh, membantu dalam
    proses oksidasi makanan saat dicerna di lambung, juga mengatur kepekaan saraf
    mata terhadap sumber rangsangan cahaya yang datang dari luar tubuh. Kekurangan
    maupun kelebihannya akan menimbulkan bahaya kesehatan yang serius. Kedua
    keadaan ini timbul pada kondisi yang sangat berbeda. 
  • Kekurangan vitamin A banyak terjadi di negara berkembang dalam bagian endemik dan kadang-kadang hanya terlihat
    di masyarakat yang teknologinya sudah maju. Penderita kekurangan vitamin A ini umumnya  mengalami
    malabsorbsi yang hebat, penyakit kelainan pengangkutan, atau penyakit hati.
    Keracunan biasanya timbul dari penggunaan dan pengobatan vitamin A yang melampaui
    batas. Defisiensi dari vitamin A akan menyebabkan beragam gejala seperti misalnya:
 

·          
Rabun
senja
(rabun ayam/hemeralopia);
·    Frinoderma,
pembentukkan epitelium kulit tangan dan kaki terganggu, sehingga kulit tangan
dan kaki menjadi kusam dan bersisik;
·    Gangguan
penglihatan (karena kurangnya pigmen retinol pada rodopsin di bagian organ
mata);
·      
Pendarahan
pada selaput dan dinding usus, ginjal, dan paru-paru;
·  Kerusakan
pada kornea yang menimbulkan bintik bitot , kornea mengering (seroftalmi) dan
akhirnya kornea tersebut rusak sama sekali (kerotomalasi);
·      
Terhentinya
proses pertumbuhan;
· Terganggunya
pertumbuhan terutama pada bayi; Karena pada kanak-kanak dan bayi, terhambatnya
pertumbuhan diduga berhubungan dengan vitamin A, pada kanak-kanan konsumsi
energi, protein, dan zat gizi penting lainnya yang tidak cukup, bisa jadi
mengakibatkan terhentinya pertumbuhan, infeksi, dan infestasi juga melemahkan
pertumbuhan, dan kejadian umumnya bersama-sama dengan kekurangan yang lain pada
anak dengan status vitamin A yang tidak cukup, telah merintangi penampakan
pengaruh ini;
·    Xeroftalmia,
yaitu istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan semua gejala kekurangan
vitamin A pada mata, adalah penyebab yang paling umum dalam kebutaan pada
anak-anak di seluruh dunia;
·      
Terganggunya
kulit; Luka yang umum menyertai kekurangan vitamin A pada orang dewasa adalah
hiperkerotosis folikular dan mungkin didahului atau disertai dengan jerawat.
Penyakit ini tidak spesifik untuk kekurangan vitamin A dan juga dihubungkan
dengan kelaparan, rendahnya konsumsi lemak pada umumnya atau lemak esensial
pada khususnya dan kekurangan vitamin B kompleks;
· Pembentukkan
darah (Hematopoiesis); Kekurangan vitamin A pertama-tama diidentifikasi sebagai
penyebab anemia oleh Wolbach dan Howe. Sejak itu, kesimpulan ini telah
ditetapkan maupun dibantah. Selain itu kekurangan ini dapat dapat membawa
kepada anoreksia yang parah; kekurangan konsumsi air yang segera mengikutinya
setelah itu membawa kepada penurunan volume plasma. Peneliti pendahuluan telah
menunjukan bahwa anak-anak yang kekurangan vitamin A memperlihatkan keengganan
minum. Anemia karena kekurangan vitamin A disertai dengan hipoferremia, yang
tidak responsif terhadap besi yang masuk melalui mulut, meskipun kecepatan
penyerapan besinya normal. Ada pengendapan yang tidak normal dari besi dalam
hati dan limfa yang disertai dengan kadar besi rendah pada sirkulasinya;
· Ketahanan
terhadap infeksi; kekurangan vitamin A telah lama dihubungkan dengan
meningkatnya kemudahan untuk terkena infeksi, khususnya pada saluran pernafasan
dan saluran pencernaan. Mekanisme kekebalan menjadi turun, rintangan mekanik
menjadi terurai dan keadaan kakeksia berkembang. Sintesis antibodi turun dan
sel yang menjadi perantara dalam kekebalan melemah. Kehilangan silia epitel dan
pengeluaran lendir mempermudah penetrasi mikroba ke dalam jaringan-jaringan
saluran pernafasan dan pencernaan. Kelelahan yang menyeluruh dipandang
mempermudah pertumbuhan organisme patogen dan melemahkan jaringan yang
diserangnya dalam mempertahankan diri terhadap infeksi; serta
·  Reproduksi;
Kekurangnan vitamin A dapat memperburuk kondisi kesehatan organ-organ
reproduksi. Studi ini telah diuji pada beberapa hewan, seperti pada janin
kelinci, kekurangan vitamin ini berakibat hidrosefalus.
  • Sumber dari vitamin A diantaranya mentega, hati, minyak
    ikan, telur dan susu, sayuran yang berwarna hijau dan kuning yang mengandung
    karoten dan karotenoid dan dapat diubah menjadi vitamin A dalam tubuh. 
  • Kebutuhan untuk keadaan normal 3-5 mg/hari atau jumlah harian vitamin A yang
    diperbolehkan bagi orang dewasa ditetapkan 1000µg (3300 SI) ”setara retinol’’
    untuk laki-laki dan 800µg (2664 SI) untuk wanita. Dan umumnya, masyarakat
    sering kali paling banyak mengalami Kurang Vitamin A (KVA).
Sumber Referensi Pendukung:
  • Achadi,
    E. L. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Depok: Departemen Gizi dan Kesehatan
    Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

  • Almatsier,
    S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:
    PT. Gramedia   Pustaka Utama.

  • Belsey,
    M.A, dkk. 1994. Pemaduan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dengan Pemeliharaan
    Kesehatan Dasar
    . Jakarta: Binarupa Aksara.

  • Khomsan,
    A. 2006. Solusi Makanan Sehat. Jakarta : PT Rajagrafindo.
  • Pearce, Evelyn. 1990. Anatomi dan Fisiologi Untuk
    Paramedis
    . Jakarta: PT. Gramedia
    Pustaka Utama.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *