Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

Dalam buku yang berjudul Cooperative Learning, oleh Lie menyatakan bahwa sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik
untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur
adalah sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning. Lebih
lanjut menurut Rustaman (dalam Intan 2013: 10), pembelajaran kooperatif
merupakan salah satu pengembangan pembelajaran yang berasal dari teori
kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun
pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional.
Teknik belajar mengajar think-pair-share merupakan salah
satu teknik belajar mengajar yang dikembangkan oleh Frank Lyman sebagai
struktur kegiatan pembelajaran Cooperative Learning. Teknik ini memberi
siswa kesempatan untuk bekerja sendiriserta bekerja sama dengan orang lain.
Keunggulan dari teknik think-pair-share ini adalah optimalisasi
partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa
maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik think-pair-share memberi
kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk
dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Teknik ini bisa
digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Pada tahap think,
guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran,
dan siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau
masalah yang diajukan. Pada tahapan ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban
mereka, hal ini karena guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa sehingga
melalui catatan tersebut guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki
atau diluruskan di akhir pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk
tahap ini, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan, jenis dan bentuk pertanyaan yang diberikan, serta
jadwal pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
Kelebihan dari tahap ini
adalah adanya “think time” atau waktu berpikir yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban mereka sendiri sebelum
pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain. Selain itu, guru dapat mengurangi
masalah dari adanya siswa yang mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas
untuk dikerjakan sendiri. Langkah kedua adalah guru meminta para siswa untuk
berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi
selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru
mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Setiap pasangan
siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil
akhir yang didapat menjadi lebih baik, karena siswa mendapat tambahan informasi
dan pemecahan masalah yang lain. 
Pada langkah terakhir, ini guru meminta
pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi hasil pemikiran mereka dengan pasangan
lain atau dengan seluruh kelas. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru
berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat
atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk
melapor. Langkah ini merupakan penyempurnaan dari langkah-langkah sebelumnya,
dalam arti bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok menjadi lebih
memahami mengenai pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan penjelasan
kelompok yang lain. Hal ini juga agar siswa benar-benar mengerti ketika guru
memberikan koreksi maupun penguatan di akhir pembelajaran.  

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *