Toksisitas Arsen (As) dan Dampak Paparan Arsen Terhadap Kesehatan

1.   
Toksisitas
Arsen
Keracunan arsen dapat berupa 3 bentuk,
yaitu:                                                                                    
1.      Menghisap
atau kontak dengan debu persenyawaan-persenyawaan arsen anorganik;
2.      Menghisap
persenyawaan-persenyawaan arsen dengan zat air; dan
3.      Kontak
dengan persenyawaan-persenyawaan arsen organik.
Gejala-gejala
dan tanda-tanda penyakit untuk ketiga golongan keracunan ini berlain-lain.
Persenyawaan arsen anorganik bersifat perangsang setempat kepada kulit dan
selaput lendir, dan mungkin bersifat carcinogenic. Persenyawaan-persenyawaan
arsen dan zat air berefek hemolitik terhadap darah sehingga mengakibatkan
hemoglbinuri, anemi dan ikterus. Persenyawaan arsen organis dapat bekerja
sebagai perangsang lokal namun dapat juga sistemik. (Suma’mur, 1984)
Racun arsen yang
masuk ke dalam saluran cerna akan diserap secara sempurna dalam usus dan masuk
ke aliran darah, disebar ke seluruh organ tubuh.
Sebagai suatu
racun protoplasmic arsen melakukan kerjanya melalui efek toksik ganda yaitu:
a.    Arsen
mempengaruhi respirasi sel dengan menghambat kerja enzim pernafasan
b.   Senyawa
arsen dapat mempunyai tempat predileksi pada endotel darah sehingga
meningkatkan permeabilitas yang patologis.
c.   Dalam
darah arsen mengikat globulin darah sehingga dengan mudah mengikuti aluran
darah ke berbagai organ penting tubuh seperti hati, ginjal, limpa, paru-paru
dan saluran cerna, sehingga menyebabkan gangguan dalam organ-organ tersebut.
d.  Di
dalam tulang arsen dapat menggantikan posisi fosfor karena kemiripan sifatnya
dengan fosfor
2.   
Dampak
paparan arsen terhadap kesehatan

Dampak paparan
arsen dapat dijumpai pada hamper seluruh organ tubuh manusia. Efek arsen pada
mata adalah gangguan pengelihatan dan kontraksi mata pada bagian perifer
sehingga mengganggu daya pandang (Visual Field) mata.
Pada kulit
menyebabkan berwarna gelap (hiperpigmentasi), penebalan kulit (hyperkeratosis),
timbul seperti bubul (clavus), infeksi kulit (dermatitis), dan mempunyai efek
pencetus kanker (krcinogenic). Pada darah, menyebabkan kegagalan fungsi sum-sum
tulang dan terjadinya pancytopenia (yaitu menurunnya jumlah sel darah perifer).
Pada liver, mempunyai efek signifikan pada paparan cukup lama, berupa
meningkatnya aktifitas enzim liver (enzim SGOT,SGPT, gam GT), ichterus
(penyakit kuning), liver cirrhosis (jaringan hati berubah menjadi jarigan ikat
dan acites (tertimbunnya cairan dalam ruang perut). Pada ginjal akan
menyebabkan kerusakan ginjal berupa renal damage (terjadi ischemia dan
kerusakan jaringan). Pada sluran pernafasan, akan menyebabkan timbulnya
laryngitis (infeksi laryng), bronchitis dan infeksi brhoncus) dan dapat pula
menyebabkan kanker paru. Pada pembuluh darah arsen dapat mengganggu fungsi
pembuluh darah, sehingga menyebabkan penyakit arteriosclerosis (rusaknya
pembuluh darah), portal hypertention (hipertensi karena factor pembuluh darah
portal), edema paru-paru dan penyakit pembuluh darah perifer (ex: varises).
Pada system reproduksi paparan arsen dapat mengakibatkan malformasi pada janin.
Pada system immunologi, terjadi penurunan daya tahan tubuh/ penurunan
kekebalan, akibat peka terhadap bahan karsinogen dan infeksi virus. Pada system
sel, efek terhadap sel mengakibatkan rusaknya mitokondria dalam inti sel dan
turunnya energy sel dan dapat juga mengakibatkan kematian sel. Pada saluran
pencernaan arsen mengakibatkan perasaan mual, muntah serta nyeri perut
(Sudarnaji,dkk dalam Nurhayati;2006)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *