EFEK SAMPING SABUN PADA KULIT MANUSIA

Menurut Wasitaatmadja
(1997: 100-103) bahwa sabun digunakan untuk membersihkan kotoran pada kulit,
baik kotoran yang larut dalam air maupun kotoran yang larut dalam lemak. Namun,
penggunaan sabun juga dapat mengakibatkan efek samping bagi tubuh, berupa: 
   v  Daya Alkalinisasi
Kulit
Daya Alkalinisasi sabun
dianggap sebagai faktor terpenting dari efek samping sabun. Reaksi basa yang
terjadi pada sabun konvensional melepaskan ion OH sehingga pH
larutan sabun berada di antara 9 hingga 12. Hal ini diduga sebagai penyebab
iritasi pada kulit. Alkalinisasi dapat menimbulkan kerusakan kulit bila kontak
dengan kulit berlangsung lama, proses pembilasan yang kurang sempurna, serta
daya absorpsi kulit terhadap sabun.
   v  Daya Pembengkakan
dan Pengeringan Kulit
Kontak antara kulit dengan
air (pH 7) dalam waktu lama akan menyebabkan lapisan tanduk membengkak akibat
kenaikan permeabilitas kulit terhadap air. Cairan yang mengandung sabun dengan
pH alkalis akan mempercepat proses pembengkakan dan menyebabkan kerusakan
kulit. Kerusakan tersebut akan menambah kekeringan kulit akibat kegagalan sel
kulit mengikat air. Hal ini diikuti dengan proses pelepasan ikatan antar sel
tanduk kulit sehingga kulit tampak kasar dan tidak elastis.
   v  Daya Denaturasi
Protein dan Ionisasi
Reaksi kimia sabun dapat
mengendapkan ion Kalsium (K) dan Magnesium (Mg) di lapisan atas kulit. Pada
kulit yang kehilangan lapisan atas tanduk, pengendapan K+ dan Mg++
akan mengakibatkan reaksi alergi yang disebabkan oleh tertutupnya folikel
rambut dan kelenjar sehingga menimbulkan infeksi kuman. Pada deterjen, adanya
gugus SH menyebabkan denaturasi keratin yang diawali oleh lepasnya gugus
tersebut dari sistin dan sistein. Sehingga gugus SH bebas tersebut memicu
terjadinya iritasi kulit.
   v  Daya Antimikrobial
Adanya daya antimikroba
menyebabkan kekeringan pada kulit, dan oksidasi sel-sel keratin. Efek
samping lain yang dapat disebabkan oleh deterjen dan sabun antara lain
dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergik, atau kombinasi keduanya.
Pada dasarnya, sabun bukanlah bahan sensitizer,
tetapi berbagai bahan aditif, misalnya parfum, lanolin, dan antibakterial,
dapat menyebabkan timbulnya efek samping. Hakim
(1986: 465) menyatakan bahwa sejumlah sabun, terutama yang berkadar fosfor
tinggi, mengotori air drainase. Suatu akumulasi fosfor (dan unsur lain yang
penting bagi pertumbuhan tanaman) di air dikenal sebagai uetrophication. Hal tersebut dapat menimbulkan kelebihan
pertumbuhan ganggang atau lumut air (bunga ganggang) karena cadangan oksigen
akan habis dan ikan akan mati, sejumlah negara mengatur jumlah dan macam bahan
kimia campuran yang diizinkan dalam pembuatan sabun. 
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *