Pengertian, Kebaikan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

A. Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)

STAD dikembangkan
oleh Robert Slavin, dimana STAD merupakan pendekatan kooperatif yang
sederhana. Kinerja guru yang mengunakan STAD mengacu pada
belajar kelompok, menyajikan informasi akademik
baru pada siswa dengan
menggunakan prosentase verbal atau tes. Pelaksanaan pembelajaran
kooperatif tipe STAD dilaksanakan dalam beberapa tahap: persiapan,
presentsi pelajaran, evaluasi, penghargaan kelompok, menghitung ulang skor
awal dan mengubah kelompok. Penjelasan dari langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
1. Materi
Materi pelajaran dipersiapkan
untuk pembelajaran secara kelompok yang disajikan dengan
lembar kerja siswa (LKS) dan 17 lembar jawaban yang akan
dipelajari oleh siswa dalam kelompok
kecil.
2. Menetapkan siswa dalam
kelompok
Siswa-siswa dalam kelas di
kelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri empat
sampai lima orang yang memiliki latar belakang dan tingkat
prestasi akademik yang berbeda.
Beberapa petunjuk membentuk
kelompok kooperatif:
a Merangking siswa berdasarkan
prestasi akademik dalam kelas.
b Menentukan jumlah kelompok dan
tiap kelompok terdiri dari
empat sampai lima orang.
c Membagi kelompok dengan
komposisi tingkat prestasi yang
seimbang.
3. Menentukan skor awal
Skor awal ini merupakan skor
rata-rata siswa individual pada
semester sebelumnya/tes
sebelumnya.
b. Tahap pembelajaran
Tahap pembelajaran kooperatif
tipe STAD dimulai dengan kegiatan
guru mempersiapkan materi
pelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan
penyajian informasi baik secara
verbal ataupun dalam bentuk tes.
Selanjutnya siswa diorganisasikan
dalam kelompok-kelompok belajar
untuk bersama-sama menyelesaikan
tugas atau LKS.
c. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan dalam
pembelajaran kooperatif tipe STAD
meliputi evaluasi dilakukan
setelah siswa selesai melaksanakan
kegiatan pembelajaran, siswa
harus menunjukkan apa yang telah
dipelajari dalam kelompok. Hasil
tes individu menjadi dasar skor
kelompok dan akhirnya menjadi
dasar pemberian penghargaan.
(Hartati 1998 : 11-12)
Menurut Slavin dalam bukunya
Ibrahim (2000:52), nilai
perkembangan individu dalam
kelompok dapat dilihat dengan
menggunakan tabel dibawah ini:
Tabel 1: Nilai
Perkembangan
Skor tes
Nilai
perkembang
Lebih dari 10
poin di bawah skor awal
5 poin
1- 10 poin di
bawah skor awal
10 poin
Skor awal –
naik 10 poin diatas
skor awal
20 poin
10 poin atau
lebih di atas skor
dasar
30 poin
Nilai sempurna
(tidak
berdasarkan
skor awal)
30 poin
 Sumber: ( Ibrahim 2000:57)
Dalam menentukan kelompok mana yang
akan diberi
penghargaan,ada tiga kriteria
penghargaan yaitu:
a Kelompok dengan rata-rata skor
15 sebagai kelompok baik.
b Kelompok dengan rata-rata skor
20 sebagai kelompok hebat.
c Kelompok dengan rata-rata skor
25 sebagai kelompok super hebat
( Ibrahim 2000:62)
Untuk kelompok super dan kelompok
hebat dapat diberikan penghargaan
tertentu sesuai dengan kebijaksanaan guru.
B. Kebaikan/Keuntungan dan
Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Landasan yang mendasari model
pembelajaran kooperatif dalam
pendidikan adalah falsafah homo
homini socius
. Falsafah ini menekankan
bahwa manusia adalah mahluk
sosial. Dengan bekerja sama maka
kelangsungan hidup dapat
terpenuhi.
Sampai saat ini model
pembelajaraan kooperatif belum banyak
diterapkan dalam dunia pendidikan
kita. Kebanyakan pengajar enggan
untuk menerapkan sistem ini
karena beberapa alasan. Menurut Kagan
ataupun Slavin dalam bukunya
Kauchak (1998:136,137) mengatakan
adanya masalah menetapkan
strategi belajar bersama di kelas yaitu ramai,
gagal untuk saling mengenal,
perilaku yang salah dan penggunaan waktu
yang tidak efektif.
Ramai, biasanya yang dihasilkan
dalam interaksi siswa yang
produktif. Ketika menerapkan
strategi belajar bersama, kita harus berharap
agar kelas lebih ramai sedikit
karena siswa bekerja dan berbicara dalam
kelompok kecil. Namun sesuatu
yang berkelebihan, bagaimanapun akan
mengganggu guru dan mengganggu
fungsi kelompok dan kelas lainnya.
19
Gagal untuk menyatu, biasanya
terjadi pada siswa yang terisolasi
secara sosial. Dalam kegiatan
belajar, siswa duduk diam terisolir dari
siswa-siswa lainnya. Belajar
bersama mengharuskan mereka berbicara,
mendengarkan dan membantu lainya
untuk belajar. Proses biasanya dibuat
lehih rumit oleh keheterogenan
kelompok tersebut.
Perilaku yang salah, biasanya
timbul karena adanya ketidaktahuan
siswa tentang apa yang harus
dilakukan dalam pembelajaran kooperatif.
Hal ini yang menimbulkan
peningkatan masalah manajemen pada siswa
sehingga memerlukan solusi untuk
masalah potensial yang menantang,
pemikiran lebih, penyusunan dan
pengawasan agenda dan pengawasan
siswa dengan hati-hati.
Penggunaan waktu yang tidak
efektif oleh siswa terjadi karena siswa
yang bergurau dan bermain sendiri
sedangkan siswa lainnya sibuk
melakukan aktivitas kelompok.
Pengawasan guru yang tidak cermat dalam
mengawasi kinerja guru selama
pembelajaran kelompok tidak efektif.
Selain masalah-masalah yang
kemungkinan terjadi, menurut
disertasinya Soewarso (1998:23)
kelemahan-kelemahan yang mungkin
terjadi adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran kooperatif
bukanlah obat yang paling mujarab untuk
memecahkan masalah yang timbul
dalam kelompok kecil.
b. Adanya ketergantungan sehingga
siswa yang lambat berfikir tidak
dapat berlatih belajar mandiri.
c. Pembelajaran kooperatif
memerlukan waktu yang lama sehingga
target pencapaian kurikulum tidak
dapat dipenuhi.
d. Pembelajaaran kooperatif tidak
dapat menerapkan materi pelajaran
secara cepet.
e. Penilaian terhadap individu
dan kelompok dan pemberian hadiah
menyulitkan bagi guru untuk
melaksanakannya
20
Meskipun banyaknya kelemahan yang
timbul, menurut disertasinya
Soewarso (1998:22) pembelajaran
kooperatif juga memiliki keuntungan.
Keuntungan ini meliputi:
a. Pelajaran kooperatif membantu
siswa mempelajari isi materi pelajaran
yang sedang dibahas.
b. Adanya anggota kelompok lain
yang menghindari kemungkinan siswa
mendapatkan nilai rendah, karena
dalam pengetesan lisan siswa
dibantu oleh anggota kelompoknya.
c. Pembelajaran kooperatif
menjadikan siswa mampu belajar berdebat,
belajar mendengarkan pendapat
orang lain, dan mencatat hal-hal yang
bermanfaat untuk kepentingan
bersama-sama.
d. Pembelajaran kooperatif
menghasilkan pencapaian belajar siswa yang
tinggi menambah harga diri siswa
dan memperbaiki hubungan dengan
teman sebaya.
e. Hadiah atau penghargaan yang
diberikan akan akan memberikan
dorongan bagi siswa untuk
mencapai hasil yang lebih tinggi.
f. Siswa yang lambat berfikir
dapat dibantu untuk menambah ilmu
pengetahuannya.
g. Pembentukan kelompok-kelompok
kecil memudahkan guru untuk
memonitor siswa dalam belajar
bekerja sama.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan, pelaksanaan
pembelajaran kooperatif tidak
digunakan untuk pelajaran
Akuntansi setiap hari. Pelaksanaannya dapat
dilaksanakan satu bulan hanya
beberapa kali. Untuk mengejar materi dapat
dilakukan pembelajaran ceramah.
Sedangkan dari keuntungan yang telah
diuraikan di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
memberikan kesempatan bagi
seluruh anggota untuk mampu bekerja
sama, bersosialisasi antar teman,
belajar untuk saling berbagi pengetahuan
dengan sesama anggota
kelompoknya.