Keterampilan Berpikir Kritis: Solusi Cerdas Untuk Mengasah Nalar Berpikir Siswa

       Keterampilan Berpikir Kritis
Menurut kamus Webster’s
menyatakan, “Kritis” (critical)
adalah “Menerapkan atau mempraktikan penilaian yang teliti dan obyektif”
sehingga “berpikir kritis” dapat diartikan sebagai berpikir yang membutuhkan
kecermatan dalam membuat keputusan.
Pengertian yang
lain:
berpikir kritis merupakan proses yang bertujuan untuk membuat keputusan yang
masuk akal mengenai apa yang kita percayai dan apa yang kita kerjakan. Berpikir
kritis merupakan salah satu tahapan berpikir tingkat tinggi. proses berpikir kompleks atau berpikir tingkat tinggi dibagi ke dalam empat kelompok yang meliputi pemecahan masalah (problem solving), pengambilan keputusan (decision making), berpikir kritis (critical thinking), dan berpikir kreatif (creative thingking). Berpikir kritis diperlukan dalam  kehidupan karena dalam kehidupan di
masyarakat, manusia selalu dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan
pemecahan. Untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu diperlukan data-data
agar dapat dibuat keputusan yang logis, dan untuk membuat suatu keputusan yang
tepat, diperlukan kemampuan kritis yang baik.
Sementara itu, penalaran meliputi berpikir dasar (basic thinking), berpikir kritis (critical thinking), dan berpikir kreatif (creative thinking). Terdapat delapan buah penelitian yang dapat
dihubungkan dengan berpikir kritis, yaitu menguji, menghubungkan, dan
mengevaluasi semua aspek dari sebuah situasi atau masalah, memfokuskan pada
bagian dari sebuah situasi atau masalah, mengumpulkan atau mengorganisasikan
informasi, memvalidasi dan menganalisis informasi, mengingat, dan menganalisis
informasi, menentukan masuk tidaknya sebuah jawaban, menarik kesimpulan yang
valid, memiliki sifat analitis dan refleksif. Beberapa kemampuan yang
dikaitkan dengan konsep berpikir kritis adalah kemampuan-kemampuan untuk
memahami masalah, menyeleksi informassi yang penting untuk menyelesaikan
masalah, memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang
relevan, serta menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari
kesimpulan-kesimpulan tersebut.

Pernyataan di atas didukung oleh Amri dan Ahmadi (2010: 64) dalam
berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang
tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi masalah
serta kekurangannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiarto (dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 64), bahwa
berpikir kritis merupakan berpikir disiplin yang dikendalikan oleh kesadaran.
Cara berpikir ini merupakan cara berpikir yang terarah, terencana, mengikuti
alur logis sesuai dengan fakta yang diketahui.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *