Ciri-Ciri Papilla Pengecap Pada Lidah Dan Kemoreseptor Penerjemah Berbagai Rasa

Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan
rangsangan kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan
lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir,
dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas
sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.
Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu bentuk benang, bentuk dataran
yang dikelilingi parit-parit, dan bentuk jamur. Tunas pengecap terdapat pada
paritparit papila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk
jamur, dan di permukaan papila berbentuk benang, (Anonim, http://bebas.ui.ac.id ).
Sumber gambar: Raven dan Johnson (dalam situs perpustakaancyber.blogspot.com)
Puting pengecap atau taste bud terbentuk dari sekitar
50-150 sel-sel perasa. Bentuknya bulat lonjong dengan kuncup terbuka yang
disebut dengan porus perasa. Porus perasa iniu merupakan bagian dari ujung atau
terminal dari masing-masing selyang membentukputing perasa tersebut yang juga
memiliki mikrivili serta berinti. Pada bagian basal dari sel-sel inilah
kemudian serabut saraf saling berlekatan dan membentuk sinaps. Pada bagian
akhir kumpulan sel-sel tersebut terdapat sel-sel basal yang berinti yang juga
berfungsi untuk resgenerasi sel-sel puting perasa juga menopang sel-sel
tersebut. Dengan bentuk sel-sel puting perasa dan sel-sel basal tersebut, maka
memungkinkan terjadinya regenerasi puting pengecap. Sel saraf yang berbentuk
sinaps tersebut akhirnya akan menuju ke pusat saraf. Karena sifatnya
menghantarkan stimulus maka sel saraf tersebut disebut dengan neuron sensorik
atau sel saraf sensori pengecap. Dengan “bala tentara” berupa 6 juta reseptor,
hidung dapat membedakan sekitar 10.000 jenis bau. Sementara itu, anjing
memiliki 20 kali lipat lebih banyak. Tak heran bila penciuman hewan ini
dimanfaatkan untuk melacak. Proses penciuman lebih banyak melibatkan organ
kecil di rongga hidung bagian atas, berhubungan dengan otak bagian depan yang
dikenal sebagai wilayah penciuman. Jutaan sel kecil-kecil di daerah ini
masing-masing memiliki rambut-rambut halus (silia) yang berhubungan dengan
lapisan lendir. Dengan adanya lendir ini, rambut-rambut halus tadi tetap lembap
dan bertindak sebagai penangkap bau. Dari sana, hasil analisis dikirim secara
kilat ke bagian otak, tanpa melewati proses di korteks yang merupakan bagian
otak intelektual (Widiastuti, 2002).

Dengan demikian, hasil kerja penciuman bukan hasil kerja intelektual, tapi
lebih merupakan proses emosional dan naluriah. Agar dapat dibaui, suatu zat
harus mengeluarkan partikel-partikel kimia yang membentuknya. Susunan
kimiawinya harus merupakan susunan yang kompleks. Bila susunannya sederhana,
zat ini sulit atau sama sekali tidak dapat dibaui, seperti garam.
Partikel-partikel kimia yang kompleks tadi harus bisa melayang-layang di udara
dalam bentuk gas,sehingga  hidung dapat
menangkapnya. Selanjutnya, si partikel masuk ke rambut-rambut halus yang
berlumuran selaput lendir hidung, lalu meleburkan diri dengan lendir. Setelah
itu, barulah sang bau dapat terdeteksi. Zat-zat yang mudah mengeluarkan gas
biasanya berbau amat tajam, karena dapat memasuki hidung dalam jumlah banyak
(Widiastuti,2002).
Catatan: Cantumkan sumber ketika anda sudah mengambil materi di blog ini. Dengan begitu anda berstatus bukan maling lagi…hehe terimakasih. 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *