Mengenal Kompleksitas Senyawa Karbonmonoksida (CO) dan Efek Buruknya Bagi Kesehatan

Karbonmonoksida
(CO)

Gas CO terbentuk
karena pembakaran tak sempurna dari zat karbon, baik yang terdapat pada bensin
ataupun pada bahan lain termasuk kayu, batu bara, dan sebagainya, CO adalah gas
yang tak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa yang terdapat dalam
bentuk gas pada suhu di atas -192o C. Komponen ini mempunyai berat
sebesar 96,5% dari berat air dan tidak laru dalam air.
Gas CO ini
sangat bersifat racun, karena jika gas ini terhirup maka ia akan bereaksi
dengan Hb dan membentuk COHb yang menghadapi pengambilan oksigen, akibatnya
seseorang akan merasa pusing, lemas, dan bahkan sampai meninggal dunia (Daryanto,
1995: 36).
Sumber gambar: kaskus.co.id
Berkaitan dengan
hal tersebut, menurut Kristanto (2002) bahwa pengaruh CO terhadap tubuh
terutama disebabkan karena reaksi antara CO dengan haemoglobin (Hb) di dalam darah. Haemoglobin di dalam darah secara
normal berfungsi dalam sistem transport
untuk membawa oksigen dalam bentuk oksihaemoglobin
(O2Hb) dari paru-paru ke sel-sel tubuh, dan membawa CO2
dalam bentuk CO2Hb dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Dengan adanya
CO, haemoglobin dapat membentuk karboksihaemoglobin (COHb). Jika reaksi
demikian yang terjadi maka kemampuan darah untuk mentranspor oksigen menjadi
berkurang.
Faktor penting
yang menentukan pengaruh CO terhadap tubuh manusia adalah konsentrasi COHb yang
terdapat di dalam darah, di mana semakin tinggi persentase hemoglobin yang terikat
dalam bentuk COHb, semakin parah pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.
Gas CO yang terdapat di
alam terbentuk dari salah satu proses sebagai berikut:
(1) pembakaran
tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang mengandung karbon.
(2) reaksi antara
karbondioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi.
(3) pada suhu tinggi, CO2 terurai menjadi CO dan O2.
Pembebasan CO ke atmosfer sebagai aktivitas manusia lebih nyata, misalnya dari
transportasi, pembakaran minyak, gas arang atau kayu, proses-proses industri,
industri besi, kertas, kayu, pembuangan limbah padat, kebakaran hutan, dan
lain-lain (Daryanto, 1995: 36-37).

Menurut Suma’mur (19984) gejala-gejala utama keracunan CO ialah sesak
nafas, warna merah yang terang dari selaput-selaput lendir, dan apabila hebat
disertai tak sadarkan diri. Keracunan CO biasanya hanya akut, sedangkan yang
disebut keracunan kronis yaitu akumulasi kerusakan-kerusakan oleh CO dengan
kadar rendah yang dihirup secara terus-menerus, masih merupakan persengketaan.
Pencegahannya dilakukan dengan memperhatikan kadar CO di udara, fentilasi ke
luar untuk hawa pembakaran yang terjadi pada alat-alat pemanas, tungku-tungku,
dapur-dapur dan lainnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *