Gas-Gas yang Bersifat Racun: Nitrogen Oksida – Karbondioksida (CO2) – Karbonmonoksida (CO)

Posted on
RANGKUMAN OLEH WAHID : 
Gambar: kondisi kabut asap berbahaya di Riau (sumber gambar: Twitter @Islam_CallYou)
A. Nitrogen Oksida
Gas Nox terbentuk jika berlangsung pembakaran bensin pada suhu yang amat
tinggi. Gas ini dengan pengaruh sinar matahari akan berekasi dengan hidrokarbon
dan membentuk fotocenical oksida. Senyawa Nitrogen Oksida, biasa berada dalam
bentuk NO2 dan NO, dimana NO dihasilkan oleh proses anthropogenik,
kemudian secara cepat diubah menjadi NO2 di udara, kedua gas ini
mengganggu kesehatan manusia dan merusak ekosistim. Senyawa Nitrogen Oksida
adalah sebagai produk dari pusat-pusat pembakaran oleh industri-industri,
transportasi pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Nitrik Oksida merupakan gas
yang tidak berwarna dan tidak berbau, sebaliknya Nitrogen Dioksida mempunyai
warna coklat kemerahan dan berbau tajam.
Kedua bentuk Nitrogen Oksida (NO dan NO2) sangat berbahaya bagi
manusia pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak
mengakibatkan iritasi dan tidak berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara
ambient yang normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang
lebih beracun, (Daryanto,1995 :38-39).

Sebagaimana halnya CO, emisi NO dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, karena
sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran, dan kebanyakan
pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi dan konsumsi energi
serta pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx yang dibuat oleh manusia
berasal dari pembakaran arang, minyak, gas alam dan bensin, (Kristanto, 2002:
107).
B. Karbondioksida (CO2)
Dilansir dari buku “Masalah Pencemaran” karya Drs. Daryanto (1995) bahwa Gas
CO2 masuk ke udara sebagai akibat dari kegiatan dekomposisi bahan
organik (sampah), fermentasi, dan pembakaran. Selain itu gas karbondioksida
dapat dihasilkan dari alam seperti hasil respirasi, pelapukan batuan, kegiatan
magma, dan sebagainya.
Gas CO2 memiliki kemampuan bereaksi terhadap hemoglobin (Hb)
yang tinggi dibanding dengan oksigen. Gas CO2 yang cukup tinggi
dapat menyebabkan keracunan dengan tanda-tanda pusing, dan karena gas ini
beracun dapat mengakibatkan kematian, secara alami gas ini diperlukan tumbuhan
untuk fotosintesis, kelebihan CO2 di siang hari dapat segera
dimanfaatkan oleh tumbuhan, namun jika kelebihan itu berlangsung di malam hari,
makhluk hidup yang menghirupnya akan terganggu.
C. Karbonmonoksida
(CO)
Gas CO terbentuk
karena pembakaran tak sempurna dari zat karbon, baik yang terdapat pada bensin
ataupun pada bahan lain termasuk kayu, batu bara, dan sebagainya, CO adalah gas
yang tak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa yang terdapat dalam
bentuk gas pada suhu di atas -192o C. Komponen ini mempunyai berat
sebesar 96,5% dari berat air dan tidak laru dalam air.
Gas CO ini
sangat bersifat racun, karena jika gas ini terhirup maka ia akan bereaksi
dengan Hb dan membentuk COHb yang menghadapi pengambilan oksigen, akibatnya
seseorang akan merasa pusing, lemas, dan bahkan sampai meninggal dunia (Daryanto,
1995: 36).
Berkaitan dengan
hal tersebut, menurut Kristanto (2002) bahwa pengaruh CO terhadap tubuh
terutama disebabkan karena reaksi antara CO dengan haemoglobin (Hb) di dalam darah. Haemoglobin di dalam darah secara
normal berfungsi dalam sistem transport
untuk membawa oksigen dalam bentuk oksihaemoglobin
(O2Hb) dari paru-paru ke sel-sel tubuh, dan membawa CO2
dalam bentuk CO2Hb dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Dengan adanya
CO, haemoglobin dapat membentuk karboksihaemoglobin (COHb). Jika reaksi
demikian yang terjadi maka kemampuan darah untuk mentranspor oksigen menjadi
berkurang.
Faktor penting
yang menentukan pengaruh CO terhadap tubuh manusia adalah konsentrasi COHb yang
terdapat di dalam darah, di mana semakin tinggi persentase hemoglobin yang
terikat dalam bentuk COHb, semakin parah pengaruhnya terhadap kesehatan
manusia.
Gas CO yang terdapat di
alam terbentuk dari salah satu proses sebagai berikut:
(1) pembakaran
tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang mengandung karbon.
(2) reaksi
antara karbondioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi.
(3) pada suhu tinggi, CO2 terurai menjadi CO dan O2.
Pembebasan CO ke atmosfer sebagai aktivitas manusia lebih nyata, misalnya dari
transportasi, pembakaran minyak, gas arang atau kayu, proses-proses industri,
industri besi, kertas, kayu, pembuangan limbah padat, kebakaran hutan, dan
lain-lain (Daryanto, 1995: 36-37).
Menurut Suma’mur (19984) gejala-gejala utama keracunan CO ialah sesak
nafas, warna merah yang terang dari selaput-selaput lendir, dan apabila hebat
disertai tak sadarkan diri. Keracunan CO biasanya hanya akut, sedangkan yang
disebut keracunan kronis yaitu akumulasi kerusakan-kerusakan oleh CO dengan
kadar rendah yang dihirup secara terus-menerus, masih merupakan persengketaan.
Pencegahannya dilakukan dengan memperhatikan kadar CO di udara, fentilasi ke
luar untuk hawa pembakaran yang terjadi pada alat-alat pemanas, tungku-tungku,
dapur-dapur dan lainnya. 
Catatan: Jangan lupa cantumkan sumber jika sudah mengambil materi di blog ini. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *