Tujuan Sempurna – Pendidikan Gizi Keluarga

Posted on
Sumber gambar: infobocor.blogspot.com
Tujuan Pendidikan Gizi Keluarga – Hampir semua orang
makan setiap kali di rumah mereka masing-masing, dengan demikian maka perbaikan
gizi keluarga adalah pintu gerbang perbaikan gizi masyarakat, dan pendidikan
gizi keluarga merupakan kunci pembuka pintu gerbang itu. Di dalam keluarga
biasanya ibu-ibu berperan mengatur makanan keluarga, oleh karena itu ibu-ibu
adalah sasaran utama pendidikan gizi keluarga. Pendidikan gizi keluarga dapat
dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, misalnya dengan memberi teladan,
dapat pula dilakukan dengan cara yang lebih khusus misalnya kursus-kursus, dan
lain sebagainya. Pengajaran dapat ditujukan kepada perorangan, dapat pula
kepada kelompok. Kalau ibu-ibu rumah tangga merupakan sasaran utama pendidikan,
lalu siapa pengajarnya? Setiap orang yang mengetahui cara mengatas rintangan
jalur pangan dapat menjadi pengajar, bahkan harus menjadi pengajar. Sebab,
mengatasi bahaya gizi kurang adalah kewajiban semua orang dalam masyarakat.
Sering terjadi bahwa perlu dididik orang-orang tertentu untuk mengajarkan
pengetahuan gizi kepada ibu-ibu, mereka itu disebut pelatih atau kader.
Pendidikan gizi
keluarga bertujuan mengubah perbuatan-perbuatan orang yang keliru, yang
mengakibatkan bahaya gizi kurang, misalnya dengan memberi pengertian kepada
ibu-ibu agar lebih serung memberi makan kepada anak-anaknya dan memberikan
tambahan makanan yang mengandung zat pembangun ke dalam bubur bayi mereka.
Demikian pula memberi pengertian kepada para suami agar memberi cukup uang
kepada isteri mereka, agar dapat membeli cukup makanan yang bergizi tinggi.
Pengajaran untuk mengubah prilaku perlulah memberikan pengetahuan dan
pengertian tentang mengapa sesuatu aharus dilakukan; atas dasar pengetahuan dan
pengertiannya, diharapkan maulah orang mengerjakannya.

Perbuatan orang
yang kurang benar sering didasarkan oleh keyakinannya yang keliru atas sesuatu
hal, yang seakan-akan tidak dapat diubah dengan pendidikan. Kalau kita dapatkan
hal seperti ini, haruslah kita cari akal bagaimana mengubah perbuatannya tanpa
mengubah keyakinannya. Misalnya seorang ibu yang mempunyai keyakinan bahwa anak
yang kurus itu dihinggapi dan diganggu hantu, meskipun ia menderita gizi
kurang. Tanpa mengubah keyakinannya tentang hantu, dapat kita ajarkan bahwa
untuk mengusir hantu itu, kepada si anak perlu diberi makanan yang bergizi
tinggi.
Oleh: Wahid Biyobe (Disadur dari buku saya berjudul “Gizi dan Kesehatan Tubuh Manusia”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *