Peran Penting, Ciri-Ciri, Komposisi serta Proses Pembelahan yang Terjadi Pada Nukleus (Inti Sel)

2.3.1            
Nukleus
Nukleus merupakan pusat kendali pada sel
eukariot. Nukleus mengendalikan seluruh fungsi sel dengan cara menentukan macam
enzim (melalui mRNA) yang dibuat di dalam sel; dan ini menentukan  berbagai reaksi kimia dan tentunya menetukan
juga srtuktur dan fungsi sel. Kendali itu terletak pada struktur yang sama, yakni
informasi genetik atau faktor keturunan, dan terkandung dalam serat panjang DNA
yang bergabung dengan protein membentuk bahan yang disebut kromatin. Bahan ini
membuat salinanya melalui proses kimia dalam interfase. Serat kromatin di sel
tumbuhan memiliki panjang total 1- 10 meter yang harus berada di dalam nukleus
yang hanya berdiameter 10 µm artinya hanya seperjuta panjang kromatin.
Sumber gambar; analisisduniakesehatan.blogspot.com
Selama pembelahan nukleus, serat
kromosom memadat dengan cara menggulung ke arah panjangnya sehingga membentuk
benda bewarna gelap yang disebut kromosom. Kromosom mudah terlihat melalui
mikroskop cahaya. Perintah pertama DNA untuk membuat kromosom menncakup pembentukan
struktur untaian  manik- manik, dengan
manik- maniknya berupa molekul protein dasar, yakni histon. Histon diketahui
sebagai bagian dari kromatin. Manik-manik ini berdiameter 10 nm kemudian dapat
memadat dengan cara melipat lagi dan melipat lagi hingga terbentuk kromoson. Diselang
waktu antara pembelahan sel, gulungan itu mengendur dan kromosom di nukleus tak
terlihat. Nukleus juga berisi larutan berenzim yang dikenal sebagai
nukleoplasma, tempat kromatin atau kromosom serta nukleolus berada. Barangkali
nukleoplasma  memiliki struktur seperti
sitosol, mengandung struktur seperti kerangka sel yang mengatur kromatin dan nukleolus.
Nukleus mengandung satu atau lebih
(sampai sekitar empat) benda bulat kasar, nukleolus namanya. Nukleolus
berdiameter 3-5 µm (sampai sekitar 10 µm ) . nukleolus padat bentuknya,
bentuknya tak beraturan, merupakan masa serat dan dan butiran, bewarna gelap,
terbenam dalam nukleoplasma. Ditemui pula adanya daerah bewarna terang yang
disebut vakuola nukleus, yang dengan jelas menunjukkan nukleolus yang sangat
aktif. Sel yang tidak berdeferensiasi seperti sel meristem, memiliki nukleolus
lebih besar dari pada yang dimiliki oleh sel dewasa atau sel dorman.

Kemiripan antara butiran dalam nukleus
dengan ribosom di sitoplasma tampaknya bukan hanya kebetulan sebab subunit
ribosom, yang sebagian besar tersusun dari RNA dan protein, dibuat di nukleolus.
RNA ribosom dibuat di nukleolus, tapi proteinnya di sintesis di sitoplasma dan
diangkut ke nukleus. Di nukleolus, protein bergabung dengan RNA menjadi sebuah
sub unit yang kemudian diangkut kembali sitoplasma untuk saling bergabung
terakhir kalinya menjadi ribosom. Partikel sub ribosom diduga keluar masuk melalui pori – pori (Salisbury, 1995).
Sumber rujukan:
Hasnunidah,
Neni. 2010. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Universitas Lampung :
      Bandar Lampung
Salisbury, F.B dan
C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Bandung : Bandung

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *