Mikroorganisme Lengkap Yang Terdapat Pada Kompos Bioaktif

a.     
Mikroorganisme dalam kompos bioaktif
Limbah
padat organik biasanya mengandung berbagai mikroorganisma yang mampu melakukan
proses pengkomposan. Ketika limbah organik dipaparkan di udara dan kandungan
airnya sesuai, maka mikroorganisma mulai bekerja. Selain oksigen dari udara dan
air, mikroorganisma memerlukan pasokan makan yang mengandung karbon dan unsur
hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium untuk pertumbuhan dan reproduksi
mereka. Kebutuhan makanan tersebut disediakan oleh limbah organik .
Mikroorganisma kemudian melepaskan karbondioksida, air dan energi dan
berkembang biak.
Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-BCXXY1ePPFY/Tqdu8fu_thI/AAAAAAAAAOk/ZDRAXU0dUEI/s1600/cara+membuat+kompos.jpg

Energi
dilepaskan sebagai panas. Akibat dari Energi yang dilepaskan, tumpukan bahan
yang dikomposkan akan melewati tahap penghangatan. Pada minggu pertama dan
kedua proses pengomposan, energi panas yang dilepaskan oleh bakteri termofilik
dapat mengakibatkan suhu tumpukan kompos mencapai 70 derajat celcius. Kemudian
sejalan dengan waktu suhu kompos akan menurun karena aktivitas mikroorganisme
termofilik mulai menurun dan digantikan oleh mikroorganisme mesotilik.
Penurunan suhu pada akhir minggu ke-enam biasanya telah mencapai 40 derajat
celcius dan kompos sudah dapat dipanen. Tempat yang digunakan adalah ruangan
terbuka yang beratap lantai, proses aerasinya alamiah dan pembuatan tumpukannya
dibuat memanjang dengan ukuran yang tertentu. Untuk mengendalikan proses
tersebut, setiap waktu tertentu tumpukan dibalik dan disiram dengan air
seperlunya.

Limbah peternakan sebagian besar
berupa bahan organik. Hal ini menunjukkan bahwa apabila dikelola dengan cara
yang benar dan tepat peruntukkannya, limbah peternakan masih memiliki nilai
sebagai sumberdaya yang potensial bermanfaat.
Sejak dahulu limbah peternakan sudah
digunakan oleh petani sebagai bahan sumber pupuk organik, namun karena pengaruh
intensifikasi pertanian, pemanfaatan tersebut semakin berkurang. Selain itu
juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pengolahan limbah peternakan yang
masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan petani pada masa itu. Pengolahan
limbah sebagai pupuk masih dilakukan secara konvensional, yaitu dibiarkan
menumpuk dan mengalami proses degradasi secara alami. Teknologi yang tepat dan
benar belum dikembangkan.
Teknik pengomposan merupakan salah
satu cara pengolahan limbah yang memanfaatkan proses biokonversi atau
transformasi mikrobial. Biokonversi itu sendiri adalah proses-proses yang
dilakukan oleh mikroorganisme untuk merubah suatu senyawa atau bahan menjadi
produk yang mempunyai struktur kimiawi yang berhubungan. Proses biokonversi
limbah dengan cara pengomposan menghasilkan pupuk organik yang merupakan hasil
degradasi bahan organik.
Salah
satu aktivator atau dekomposer yang sering digunakan adalah Stardec atau
Starbio. Aktivator Stardec berisi beberapa mikroba yang berperan dalam
penguraian atau dekomposisi limbah organik hingga dapat menjadi kompos. Mikroba
tersebut lignolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, aminolitik dan
mikroba fiksasi nitrogen non-simbiotik.
Mikroba
– mikroba tersebut mempunyai peran – peran tersendiri hingga
mampu memperbaiki dan mempercepat proses pengomposan yang kita lakukan.
Mikroba tersebut adalah sebagai berikut:
Mikroba
lignolitik berperan dalam menguraikan ikatan lignoselulose menjadi selulose dan
lignin. Lignin ini kemudian diuraikan lagi oleh enzim lignase menjadi
 derivate  lignin yang lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4.
Mikroba
selulotik akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghidrolisis selulosa
menjadi selulosa lalu dihidrolisis lagi menjadi D-glukosa dan akhirnya 
didokumentasikan sehingga menghasilkan asam laktat, etanol, CO2 dan ammonia.
Bakteri
proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu
enzim pemecah protein yang diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar
dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak
semua mempunyai enzim protease ekstraseluler.
Bakteri
proteolitik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok:
  • Bakteri
    aerobik atau anaerobik fakultatif, tidak membentuk spora, misalnya Pseudomonas
    dan Proteus.
  • Bakteri
    aerobik atau anaerobik fakultatif, membentuk spora, misalnya Bacillus.
  • Bakteri
    anaerobik pembentuk spora, misalnya sebagian spesies Clostridium.

Mikroba
proteolitik akan mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida, lalu menjadi
peptida sederhana dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. Mikroba lipolitik akan menghasilkan
enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak. Mikroba amilolitik akan menghasilkan
enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty
acids dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *