Komponen-Komponen Penyusun Kurikulum Biologi di Sekolah

Posted on

1  Komponen Kurikulum Biologi
Kurikulum memiliki lima komponen utama,
yaitu : (1) tujuan; (2) materi; (3) strategi, pembelajaran; (4) organisasi
kurikulum dan (5) evaluasi. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang
erat dan tidak bisa dipisahkan. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan
diuraikan tentang masing-masing komponen tersebut.
A.   
Tujuan
Kurikulum Biologi
Tujuan
Kurikulum di sekolah yaitu membekali peserta didik tidak hanya dengan
dasar-dasar keilmuan bidang Biologi, tetapi juga dibekali dengan agama, sosial
budaya, dan bahasa.
B.    
Materi
kurikulum Biologi antara lain:
·        
Komponen
Pengembangan Kepribadian
Komponen Pengembangan Kepribadian dimaksudkan untuk
melengkapi peserta didik  agar menjadi
manusia yang memiliki spiritual dan moral yang baik. Komponen ini juga mencakup
pembekalan mahasiswa berkenaan dengan masalah Sosial dan Budaya.
Menurut Kohlberg, anak – anak menemukan nilai – nilai
moral pada dirinya dalam perkembangan. Anak – anak memiliki dasar nilai – nilai
moral yang sama disetiap kebudayaan yang ada disetiap masyarakat.  Ada tiga tahapan perkembangan moral pada diri
sseorang termasuk peserta didik yaitu :
a.      
Moralitas
preconventional, yaitu mencoba mendefinisikan benar dan salah yang perlu
ditaati atau dijauhi yang lebih berkaitan dengan konsekuensi daripada tujuan
b.     
Moralitas
conventional, yaitu mulai menerima gambaran moralitas anak yang baik
berdasarkan nilai – nilai sosial yang disetujui.
c.      
Moralitas
posconventional, yaitu menerima kemungkinan terjadinya konflik nilai dan
mencoba membuat sesuatu keputusan yang rasional
·        
Komponen
Keilmuan dan Ketrampilan
Komponen Keilmuan dan Ketrampilan mencakup pelajaran
Biologi dan aplikasinya. Misalnya keterampilan mempelajari tumbuhan,
faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta fungsi bagian tubuhnya.
·        
Komponen
Keahlian Berkarya
Komponen
Keahlian Berkarya, yaitu peserta didik diberi kesempatan untuk melatih,
melengkapi, atau memperdalam ilmu Biologi dengan membuat suatu karya yang
kreatif, inovatif, dan bermanfaat. Contohnya seperti membuat tapai dari ketan
maupun singkong untuk mempelajari bioteknologi dan respirasi anaerob.
·        
Komponen
Berprilaku Berkarya
Peserta didik dibiasakan untuk berpikir kritis, objektif,
dan ilmiah sehingga menciptakan prilaku yang suka akan tantangan berkarya.
Misalnya, yaitu mencoba untuk membuat karya tulis ilmiah.
Berfikir Intuitis dan Berfikir Analitis
Ahli matematika, fisika, biologi, dan ilmuan lainnya
menekankan nilai intuisi dalam pemecahan masalah.  Seorang dikatakan berfikir intuitif bila ia
telah lama memikirkan suatu soal dan secara tiba – tiba melihat
pemecahannya.  Disamping itu dikatakan
bahwa seseorang berfikir intuitif bila ia dengan cepat dapat mengemukakan
terkaan – terkaan yang baik dan tepat. 
Menurut kamus webster, intuisi berarti pemahaman yang segera.  Benar atau tidaknya intuisi masih diselidiki
degan cara analitis.  Berfikir analitis
berlangsung selangkah demi selangkah. 
Tiap langkah itu tegas dan dapat dijelaskan kepada orang lain.  Berfikir dilakukan dengan penuh kesadaran
akan informasi dan operasi yang terlibat. 
Sebaliknya berfikir intuitif tidak berlangsung menurut langkah yang
tegas.  Jadi kita lihat bahwa berfikir
intuisi dan saling melengkapi
·        
Komponen Berkehidupan Bermasyarakat
Komponen ini merupakan bentuk aplikasi Biologi terhadap
lingkungan sekitar melibatkan peran aktif masyarakat. Contohnya yaitu penanaman
seribu pohon untuk memperingati hari lingkungan yang akan mengurangi dampak
pemanasan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *