Hewan-Hewan Transgenik: Pengembangan Dengan Teknik DNA Mikroinjeksi, Transfer Gen Via Retrovirus, serta Teknologi Sel Stem Embrionik

Perkembangan bioteknologi yang pesat saat ini telah menghantarkan umat manusia kezaman yang serba modern. Berbagai bidang ilmu mulai dari ilmu sosial sampai eksakta mulai mengalami perkembangan yang begitu pesat. Tentu ini menjadi PR besar bagi kita semua untuk mengambil pelajaran akan hal ini. Dengan dihadapkan oleh perkembangan bioteknologi yang begitu pesatnya, maka kita harus menentukan cara-cara dasar apa yang perlu kita tindaklanjuti untuk mengisi era saat ini. Sebuah pekerjaan manusia dalam bidang genetika dan mikrobiologi tentu membutuhkan orang yang ahli di bidangnya. Karena terkait dengan bidang ini kita akan mempelajari bagaimana organisme itu hidup, proses kehidupan mikroba, manfaat serta peranan penting apa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Salah satunya misalnya rekayasa genetika yang tentu membutuhkan beberapa objek yang harus diperlakukan sesuai prosedur yang ditetapkan. Misalnya kita akan membuat hewan transgenik. Untuk mengetahui itu semua, perlu kiranya kita membahas hal ini dengan seksama. 
Hewan transgenik merupakan hewan yang diinjeksi dengan DNA
dari hewan lain. Transformasi gen tersebut yang umumnya berasal dari spesies
yang sama, tapi dapat juga berasal dari
spesies berbeda yang dilakukan terhadap embrio sebelum hewan transgenik
tersebut dilahirkan. Transformasi genetik diharapkan menyebabkan mutasi spontan
sehingga genetik dari hewan yang ditransformasi
termodifikasi sesuai dengan gen yang diharapkan muncul sebagai performans.
Manipulasi genetik dilakukan untuk beberapa tujuan.
Pada bidang pertanian, dengan manipulasi genetik dihasilkan hewan yang memiliki
karakter yang diharapkan (breeding), pangan yang lebih sehat dihasilkan
lebih cepat (kualitas pangan) dan resistensi terhadap infeksi bakteri yang
tersebar bebas (resistensi penyakit). Bidang industri, produk baru (sapi yang
menghasilkan susu yang banyak, rendah laktosa dan kolestrol) dapat diciptakan. Dalam
bidang riset, memunculkan model riset baru (mencit transgenik) dan evolusi yang
dipaksa (organisme baru dengan karakter yang lebih diharapkan).
Hewan transgenik dikembangkan dengan 3 cara :
1.       
DNA
mikroinjeksi
Gen
yang terpilih yang diambil dari spesies yang sama atau berbeda diinjeksikan ke
dalam pronukleus ovum yang telah dibuahi. Injeksi ini menggunakan sejenis jarum
yang sangat halus, dia dapat menembus membran tanpa merusaknya. Ia masuk
melalui protein integral. DNA yang akan disisipkan, dimasukkan langsung ke
dalam zigot dengan alat ini pada awal pembentukan (belum membelah). Dan kita
tidak memerlukan vektor dalam teknik ini.  Percobaan DNA mikroinjeksi pertama kali dicoba pada
tikus
2.       
Transfer gen
dengan media retrovirus
Transfer gen dengan media
retrovirus menggunakan retrovirus sebagai vector, kemudian menginjeksikan DNA
ke dalam sel inang. DNA dari retrovirus berintegrasi ke dalam germ untuk
bekerja.  Meskipun embrio dapat diinfeksi retrovirus sampai
pertengahan kebuntingan, sel telur awal biasanya pada tahap 4-16 sel digunakan
untuk infeksi dengan satu atau lebih rekombinan retrovirus mengandung gen
asing. Segera setelah infeksi, retrovirus memproduksi
copy DNA dari genom mRNA menggunakan enzim virus yaitu reverse transcriptase. kebanyakan retrovirus dan keturunan sejenis
merupakan ecotropic yaitu hanya menginfeksi
rodensia seperti tikus dan mencit dibandingkan manusia.
3.       
Teknologi sel
stem embrionik
Teknologi yang melibatkan sel ES dan sel germ
primordial, telah digunakan untuk memproduksi host model tikus. Pluripotensial
sel ES didapat dari embrio pre-implantasi awal dan dipertahankan pada kultur
selama periode tertentu untuk menunjukkan beberapa manipulasi in vitro. Sel
mungkin diinjeksi langsung pada blastocoel blastosit host atau diinkubasi
bergabung dengan morula. Embrio host kemudian ditransfer pada host intermediate
atau betina pengganti untuk kelanjutan perkembangan. Efisiensi produksi tikus
chimera menghasilkan 30% keturunan hidup yang mengandung jaringan terderivasi
dari sel stem terinjeksi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *