Contoh-Contoh Tumbuhan/Tanaman Yang Mengandung Senyawa Terpenoid

Berikut ini akan dipaparkan berbagai
jenis/macam tanaman yang mengandung senyawa terpenoid yang berkhasiat sebagai tumbuhan obat, dintaranya yaitu:
(a).     
Kamfer (Cinnamomum
camphora
)
Tanaman ini memiliki pohon yang besar dan rindang serta sering dijumpai di
wilayah Sri Lanka, California, dan Asia Timur. Champor alam berbentuk kristal.
Senyawa ini diperoleh dengan memotong bagian batang dan akar dari Cinnamomum
camphora
kemudian melarutkannya
dalam minyak yang telah beruap.
Selanjutnya disuling dengan menggunakan uap panas.
Champor mentah lalu dibebaskan dari minyak dengan mesin pemisah dengan diputar dan
ditekan dalam cetakan. Camphor dapat
memacu saraf dalam kulit untuk mengurangi rasa sakit sehingga menutup rasa yang
timbul dari pusat permukaan kulit yang sama. 
Camphor juga telah terbukti aman untuk mengurangi batuk, sesak napas,
dan sakit tenggorokan pada anak kecil. 
Uapnya yang harum menyebabkan aksi obat bius lokal.
(b).     
Kayu putih (Melaleuca leucadendron)
Pohon ini berasal dari Tasmania yang banyak ditanam di
Eropa dan California. Tanaman ini mengandung senyawa monoterpenoid berupa
sineol. Sineol juga disebut cajuputol
karena berasal dari kayuputih.
 Minyak kayu putih didapatkan dari hasil
penyulingan daun kayu putih. Semakin  besar kadar sineolnya, kualitas
minyak kayu putih semakin tinggi. Proses  ekstraksi  minyak
 kayu  putih  dari  daun  tanaman  ini dilakukan
dengan cara atau proses yang sederhana yaitu berupa penguapan minyak dari daun
dan   kemudian   dikondensasikan.
Selanjutnya
  dilakukan   pemisahan antara komponen  minyak
 dengan  air,  yang  diperoleh  dari  semua
 bahan cair  yang diperoleh  dalam  proses
 kondensasi. Minyaknya mengandung kira-kira 70-80% Sineol, dengan
ciri-ciri cairan tidak berwarna, bau wangi seperti champhora yang tajam, dingin, rasa pedas. Minyaknya sering dipakai
pada bermacam-macam produk, seperti nasal inhaler, antiseptik semprot dan
pendingin pada aksi obat bius untuk hidung dan tenggorokan.  Sineol juga sering digunakan uapnya sebagai
pereda batuk berdahak dan radang tenggorokan.
(c).      
Thymus  (Thymus vulgaris)
Tanaman
ini berasal dari Mediterania dan terkenal sebagai tanaman yang sangat aromatik
dengan daun yang harum. Tanaman ini memiliki kandungan utama thymol yang
berperan sebagai antitusif atau pereda batuk dan ekspektoran atau pengencer
dahak sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi bronkitis dan asma. Thymol
diperoleh dengan cara memisahkan thymol natrium dengan larutan NaOH sehingga
diperoleh thimol murni. Penekanan suhu pada pembekuan thymol akan menghasilkan
kristal thymol yang sebagian besar tidak berwarna dan memiliki aroma seperti
thymi dengan rasa yang tajam.
(d).     
Bunga Artemisia (Artemisia
annua
)
Bunga
artemisia berasal dari daerah subtropis (iklim temperate). Tanaman ini
mengandung bahan aktif artemisinin yang sangat efektif mengatasi penyebab
malaria yang resisten terhadap kina (quinine).
Senyawa artemisinin pada tanaman ini bersifat kuat dan  bereaksi secara cepat sebagai shcizontosid darah dalam pengobatan
malaria yang juga aktif melawan Plasmodium
vivax
dan strain Plsmodium vivax
yang resisten terhadap klorokuin.
Senyawa artemisinin pada bunga ini berkadar tinggi
terutama pada jaringan bagian atas tanaman (daun dan bunga), sementara di
batang kandungannya rendah. Artemisinin
tidak larut dalam air, sehingga bisa dibuat dalam derivatnya  dan dalam bentuk garam agar dapat larut di
dalam air.
(e).      
Bunga Matricia (Matricia
recutita
)
Bunga ini
mengandung senyawa Sesquiterpenoid berupa chamomil.
Senyawa tersebut juga disebut sebagai matricaria
dan diperoleh dari bunga yang dikeringkan. Chamomil berefek karminatif,
spasmolitik, dan antiinflamasi.
Chamomil pada dasarnya dipandang begitu berharga dan
mahal, sering diberi label “ginseng dari Eropa”.  Sekarang chamomil menjadi salah satu teh
herbal yang populer di Amerika Serikat.
(f).      
Daun Tanaman Feverfew (Tanacetum
parthenium
)
Tumbuhan
ini memiliki aroma yang mirip dengan jeruk nipis. Daunnya berwarna hijau muda,
tidak memiliki bulu dan berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi.  Tumbuhan ini mengandung senyawa feverfew yang
telah berabad-abad digunkan sebagai antipiretik. Hingga saat ini, senyawa dalam
tumbuhan feverfew efektif menurunkan frekuensi dan kerasnya sakit kepala.
Feverfew telah digunakan secara sederhana dengan dihisap
dari daun segar tanaman, tetapi sediaan yang lain seperti tablet atau kapsul
lebih praktis. Selain meredakan sakit kepala, senyawa ini juga dapat mengobati
demam serta dapat menyebabkan pelepasan plasenta pada wanita hamil. Tanaman ini
juga membantu pencernaan makanan dengan menyerang parasit di usus dan dapat
digunakan sebagai obat luar untuk kulit bernanah dan penolak serangga.
(g).     
Bunga Valerian (Valeriana
officinalis
)
Tanaman
ini mengandung Sesquiterpenoid dengan senyawa
Valerian. Kandungan valerian dalam
tanaman ini bersifat mudah menguap dan berbau tidak enak. Umumnya, senyawa
tersebut dikonsumsi sebagai sediaan teh herbal kering. Senyawa tersebut dapat membantu mengurangi gangguan pencernaan,
serta meringankan kondisi nyeri saluran cerna, kejang, serta pusing.
(h).     
Tanaman Ginkgo (Ginkgo
biloba
)
Tanaman
ini berasal dari Cina bagian timur. Bijinya
digunakan untuk menyembuhkan gangguan pencernaan, masalah kandung kemih, dan
bahkan kanker. Ginkgo juga secara tradisional digunakan untuk mengobati masalah
paru-paru seperti asma dan bronkitis kronis.
Ginkgo dapat dikonsumsi dengan menyeduhnya
sebagai teh. Dua komponen utama dari daun
ginkgo adalah flavonoid dan terpenoid. Flavonoid, antioksidan yang berbasis
tanaman, membantu melindungi pembuluh darah dan sistem saraf pusat. Terpenoid
melebarkan pembuluh darah dan membantu menjaga platelet darah dari saling
menempel. Ginkgo juga dapat bertindak sebagai antidepresan. Hal ini juga
telah terbukti membantu menenangkan suasana hati dari orang-orang dengan
gangguan kecemasan.
(i).       
Tanaman Taxus (Taxus
brevifolia
)
Tanaman
ini mengandung senyawa diterpenoid berupa Taxol atau paclitaksel yang merupakan
merupakan obat pada pengobatan meta static karsinoma / kanker rahim. Senyawa ini ditemukan pada
tahun 1964 dan diekstraksi dari bagian kulit batang tanaman Taxus
brevifolia
 . Tanaman ini berbatang
kecil, tumbuh menjuntai, dan tumbuh liar di kawasan Eropa.
(j).       
Tanaman Labu (Cucurbita foetidissima)
Tanaman
ini mengandung senyawa Cucurbitacins
yang merupakan salah satu triterpenoid. Tanaman ini tumbuh di daerah Amerika
Serikat dan Meksiko. Buahnya berbentuk bulat dengan corak berwarna keputihan
dan dapat dikonsumsi sebagai makanan bagi manusia. Tanaman
Labu (Cucurbita foetidissima) termasuk ke dalam famili Cucurbitaceae atau keluarga mentimun.
(k).     
Wortel (Daucus
carota
)
Pada tumbuhan, karotenoid mempunyai dua fungsi yaitu
sebagai pigmen pembantu dalam fotosintesis dan sebagai pewarna dalam bunga dan
buah.  Dalam bunga, karotenoid yang
merupakan tetraterpenoid kebanyakan berupa zat warna
kuning, sementara dalam buah dapat juga berupa zat warna jingga atau
merah.  Karotenoid yang terkenal adalah
xantofil.  Senyawa tersebut berperan
dalam proses pengelihatan.
(l).       
Karet (Ficus
elastica
)
Tanaman
karet merupakan salah satu contoh tanaman yang mengandung politerpenoid berupa
karet alam. Tanaman ini memiliki akan menggugurkan
daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan (kekurangan air atau kemarau). Tanaman karet juga memiliki sistem
perakaran yang ekstensif/menyebar cukup luas sehingga tanaman karet dapat tumbuh
pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan. Tanaman ini karet adalah bahan utama pembuatan ban, beberapa alat-alat
kesehatan, alat-alat yang memerlukan kelenturan dan tahan goncangan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *