Kajian Dan Telaah Umum—Komponen-Komponen Penyusun Satuan Kurikulum Di Indonesia

2.1.  Komponen
Kurikulum
Adapun komponen – komponen
kurikulum secara umum yaitu :
1.    Tujuan,
Yaitu arah/sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaran pendidikan
2.    Isi
Kurikulum, Yaitu pengalaman belajar yang di peroleh murid di
sekolah.pengalaman-pengalaman ini di rancang dan di organisasikan sedemikian
rupa sehingga apa yang diperoleh murid sesuai denagn tujuan
3.    Metode
proses belajar mengajar yaitu cara muri memperolehpengalaman belajaruntuk
mencapai tujuan
4.    Evaluasi
yaitu cara untuk mengetahui apakah sasaran yang ingin di tuju dapat tercapai
atau tidak.
Menurut
Ralph W. Tyler dalam bukunya Basic
Principles of Curriculum and Instruction
(1949), salah satu buku yang
paling berpengaruh dalam pengembangan kurikulum mengajukan 4 pertanyaan pokok
yaitu:
1.   
Tujuan apa yang harus dicapai oleh sekolah?
2.   
Bagaimanakah memilah bahan pelajaran guna
mencapai tujuan itu?
3.   
Bagaimanakah bahan di sajikan agar efektif untuk
di ajarkan?
4.   
Bagaimanakah efektifitas mengajar dapat dinilai?
Berdasarkan
pertanyaan itu maka diperoleh ke empat komponen kurikulum yakni:
1.   
Tujuan
2.   
Bahan pelajaran
3.   
Proses belajar mengajar
4.   
Evaluasi atau penilaian
Keempat
komponen itu dapat kita gambarkan dalam bagan sebagai berikut :
                                   
                                                            Tujuan

 


Evaluasi                                                                              Bahan

 


                                                     PBM
Ke
empat komponen itu saling berhubungan. Setiap komponen saling bertalian erat
dengan ketiga komponen lainnya. Tujuan menentukan bahan apa yang akan di
pelajari, bagaimana proses belajarnya, dan bahan apa yang harus di nilai.
Demikian pula penilaian dapat mempengaruhi komponen lainnya. Pada saat
dipentingkannya evaluasi dalam bentuk ujian, misalnya EBTANAS, UMPTN, maka
timbul kecenderungan untuk menjadikan bahan ujian sebagai tujuan kurikulum,
proses belajar mengajar cenderung mengutamakan 
latihan dan hafalan.
Bila
salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkannya tujuan yang baru, atau proses
belajar mengajar, misalnya metode baru atau cara penilaian maka komponen
lainnya turut mengalami perubahan. Kalau tujuannya jelas maka bahan pelajaran,
PBM, maupun evaluasi pun lebih jelas. Pola kurikulum yang di kemukakan oleh
Tayler ini tampaknya sangat sederhana namun dalam kenyataannya lebih kompleks
daripada yang di duga. Tak muda menentukan tujuan pendidikan atau pelajaran,
tak muda pula menentukan bahan yang tepat guna mencapai tujuan itu. Misalnya
bahan untuk mendidik anak agar menjadi manusia pembangun, jujur, kerja keras
dsb. Menentukan PBM yang efektif tak kurang sulitnya, karena keberhasilannya
baru diketahui setelah nilai.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *