Ekologi: Pengertian Habitat, Relung, dan Keragaman Relung Ekologi

A. Pengertian Habitat dan
Relung

Habitat dan relung
adalah dua istilah tentang kehidupan organisme, yang memerlukan pemahaman
yang  mantap agar pemakaian kedua istilah
itu tidak keliru. Habitat adalah tempat suatu organisme hidup; kalau kita ingin
mencari suatu organisme tertentu, maka kita harus tahu tempat hidupnya; ke tempat
itulah kita pergi. Jadi habitat suatu organisme dapat disebut
“alamat” organisme itu. Relung (nische) adalah posisi atau status
suatu
organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, yang merupakan
adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu.
Jadi relung suatu organsime bukan hanya ditentukan oleh tempat organisme itu
hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dikerjakannya. Boleh juga
dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi organisme dalam
lingkungan hidupnya.

Pertelakan relung organisme
sangat perlu sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan
ekosistem dalam habitat utama. Untuk dapat membedakan relung suatu organisme,
maka perlu diketahui tentang kepadatan populasi, metabolisme secara kolektif,
pengaruh faktor abiotik terhadap organisme, pengaruh organisme terhadap
lingkungan abiotik, dan interaksi antara organisme yang satu dengan terhadap
yang lainnya. Pada umumnya suatu relung tidak mudah dipertelakan. Jenis
organisme yang sama seringkali menempati relung yang berbeda bila berada di
kawasan yang berbeda, dan ini tergantung pada organisasi komunitas setempat.
Dalam suatu kelompok taksonomi yang sama, tetapi jenis-jenis itu tidak akan
pernah menempati relung yang sama bila berada dalam suatu habitat yang sama,  (Resosoedarmo dkk, 1985: 14-16).

B. Keragaman Relung

Berdasarkan keragaman
makanannya, relung ada yang bersifat umum (generalis) dan yang khas (spesialis).
Sebagai contoh suatu organisme selain memakan cacing lumpur, tetapi juga
memakan ikan kecil atau udang, serangga air atau biji-bijian tumbuhan air.
Organisme yang demikian disebut polifag. Untuk yang memakan sedikit
jenis disebut oligofag, sedangkan yang memakan sejenis saja disebut monofag.

Spesialisasi terjadi
sebagai akibat kompetisi interspesifik (antarspesies). Akan tetapi bila
populasi menjadi terlalu besar akan terjadi pula kompetisi intraspesifik
(antar individu dalam satu spesies). dalam kompetisi semacam ini, sebagian
individu terdesak ke bagian relung yang marjinal. Akibatnya relung menjadi semakin
lebar, sehingga spesies tersebut makin generalis. Dengan demikian makin
spesialis suatu spesies, maka makin rentan populasinya.Contoh hama wereng yang
monofag sangat tergantung pada tanaman padi. Populasinya membesar pada saat
musim tanam dan menurun setelah pascapanen, sehingga menanggung resiko
kepunahan. Sebaliknya populasi spesies organisme yang generalis tidak banyak
berfluktasi, karena mereka dapat beralih dari satu jenis makanan ke jenis
makanan yang lain, (Achmad dan Jalmo, 2002: 84).
Tags:
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *