Ekologi: Densitas, Densitas Relatif, Frekuensi Ekologi, Penentu Kejayaan Ekosistem Alam

Posted on

Menurut  Subrahmanyam dan Sambamurty (2006: 14.1),
dijelaskan tentang densitas, yaitu :

 “The densities of an animal population are
estimated by mark-recapture techniques. These techniques depend on the
assumption that when a sample of animals from a population is market and
allowed to redistributed among the unmarket ones, the expected proporsion of
market to unmarket animals in a subsequence sampel is the same as the
proporsion of market ones in the population. In the simplest mark-recapture
method several conditions to be satisfied are that : (1)marking methods must
affect the animal ; (2) the mark must last still the investigation; (3) market
animlas be completly mixed in the population before the next sampel; (4)
likelihood of an animal being captured must not change with its age; (5) the
population is a closed one, i.e. not immigrat

ion or emigration occur, or if it occurs, they
can be determined; (6) there are no births or deaths during the investigation,
in case there are, they should also be determined.

More complex methods do not require a static
population (conditions 5 and 6) and can also allow for the death of animal during
handling. Such a method was developed by Jolly (1965).

In laboratory exercise we use the simple Lincoln
index because in this short duration exercise one can satisfied condition one
until six fairly confidently. In field exercise we use jolly’s method as
condition 5 and 6 do not apply to field conditions.

In the Lincoln method (1930), the choice of
criteria determining the point at which the second sampling should stop is
important. Half the data should be collected as in (i) and the other as in (ii)
below.(i) When the total number of insect counted reaches teh number of
originally-marked ones (already recorded) sampling should cease; (ii) When the
number of market individuals captured reaches 20%, of the total number of
marked one’s known to be present, sampling should cease, lincoln analysis is
based on the expected relationship “
.

Total population
(P)                                             Total in Sample (n)

                                                        =

Original marked
number                                    Total
with mark in sample

(Kerapatan
populasi hewan diperkirakan dapat melalui teknik penangkapan kembali, teknik
tersebut tergantung pada anggapan bahwa ketika sampel hewan dari populasi
adalah pasar dan dapat mendistribusikan kembali diantara yang tidak dipasarkan.
Proporsi yang diharapkan dipasar terhadap hewan yang tidak dipasarkan merupakan
bagian dari rangkaian sampel ini sama halnya dengan proporsi sampel dipasar.
Penangkapan kembali yang sangat sederhana melalui metoda dengan beberapa
kondisi yang  memenuhi, yaitu : (1)
metode penandaan harus mempengaruhi hewan ; (2) penandaan harus penyelidikan
yang terakhir ; (3) pemasaran hewan menjadi sempurna saat bercampur dalam
populasi, sebelum ke sampel berikutnya ; (4) kemungkinan hewan yang telah
tertangkap tidak harus mengubah umur mereka ; (5) populasi tertutup dengan kata
lain bukan pendatang.

Emigrasi terjadi
atau tidak terjadi dapat menentukan ; (6) tidak ada kelahiran dan kematian
selama penyelidikan, pada suatu kasus mereka dapat menentukan.

Metoda yang
lebih komplek tidak dibutuhkan pada populasi yang mengalami gangguan ( kondisi
5 dan 6) dan juga dapat menyebabkan kematian pada hewan pada saat
penanganannya. Misalnya metoda yang dikembangkan Jolly (1965).

Latihan di
laboratorium kami menggunakan penunjuk Lincoln yang sederhana, karena durasi
latihan yang singkat dapat memenuhi 
kondisi satu sampai enam secara wajar dan yakin. Di tempat latihan kami
menggunakan metoda jolly seperti kondisi 5 dan 6 yang tidak dapat digunakan
pada tempat kondisi.

Pada metoda
lincoln (1930), pemilihan kriteria menentukan batas sampel kedua akan berhenti.
Pertengahan data akan dikumpulkan seperti (i) dan yang lainnya seperti (ii),
dibawah.(i) ketika jumlah total insekta dihitung mencapai jumlah yang
semestinya sampel telah direkam akan berhenti.(ii) ketika jumlah individu
dipemasaran tertangkap mencapai 20 % dari keseluruhan total pasar yang telah
diketahui dan disajikan,sampel akan berhenti. Lincoln menganalisis berdasarkan
hubungan yang diharapkan.)

Total Populasi                                                 =                 
Total Sampel

Jumlah populasi
yang diukur                                         Total
sampel yang diukur

 (Subrahmanyam dan Sambamurty, 2006: 14.1).

1.10
Relative Density (R.D)
Menurut
penjabaran Subrahmanyam dan Sambamurty (2006: 13.8) tentang densitas relatif ,
yaitu :
“Is the density of one species as a percent
of total plant density. Mean area is plot area/density; it is the area per
plant. density is independent of cover. For example, many young, slender trees
may have a higher density but a lower cover than a few older, branching
trees”.
                 
number of individuals of the species in all the sample plots x 100
R.D =
                                             
number of units studied
(“Apakah
kerapatan satu spesies sebagai persentase dari kerapatan tanaman total rata daerah
adalah rencana daerah
/ kepadatan;. Itu adalah daerah kepadatan suatu tanaman. Sebagai contoh, banyak pohon muda,
pohon yang ukurannya kecil mungkin
memiliki kerapatan yang lebih tinggi tapi menutupi permukaan daerah lebih  rendah dari yang lebih
tua, pada pohon percabangannya
“.)              
D.R =  
Jumlah individu sampel spesies di plot 
x 100
                         Jumlah unit yang
dipelajari   
1.11 Frequency
Menurut
Subrahmanyam dan Sambamurty( 2006: 13.8) dalam bukunya yang berjudul Ecology dinyatakan tentang pengertian
frekuensi,
“Frequency denotes the homogeneity of
distribution of various species in the ecosystems. It is exprssed as the
percentage of units in which the species occurred, out of all the units studied
i.e
               
              number of units in
which the species occured  x 100
frequency =
                                               
number of units studied
If a species is well distributed, it will have a
chance of being recorded in any part of the ecosystem. i.e., will have
frequency 100 per cent while a species which is restricted to certain areas
(though growing profusely there) it will be encountered in only few quadrats
and will therefore have a low frequency value. Frequency is an easily
assessible but important parameter of the vegetation study “.
Yang artinya
frekuensi menunjukan distribusi homogenitas berbagai jenis spesies dalam
ekosistem. Hal ini dinyatakan sebagai persentase
unit di mana spesies
terjadi, dari semua unit dipelajari yaitu
Frekuensi    
=      Jumlah unit spesies yang
terjadi   x 100
                                  Jumlah unit
yang dipelajari
Jika suatu spesies yang didistribusikan dengan baik,
akan memiliki kesempatan untuk direkam dalam setiap bagian dari ekosistem.
yaitu, akan memiliki frekuensi 100 persen, sedangkan spesies yang terbatas pada
daerah tertentu (meskipun semakin banyak ada) itu akan ditemui dalam jumlah
sedikit dan karena itu akan memiliki nilai frekuensi rendah. Frekuensi adalah
parameter mudah assessible tapi penting dari studi vegetasi.
                                                        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *