Perbedaan Ekosistem dalam Ekologi dan Biodiversitas

Nama     : Wahid Birobe
NPM     : 0913024076
Prodi     : Pendidikan Biologi Universitas Lampung
Tugas    : Buatlah deskripsi perbedaan ekosistem dalam ekologi dan ekosistem dalam biodiversitas.
JAWABAN:
A. Perbedaan Ekosistem dalam Ekologi
Untuk mendeskripsikan perbedaan ekosistem dalam ekologi antar organisme sangat penting membedakan antara tempat suatu organisme serta apa saja yang dilakukan sebagai bagian dari ekosistemnya. Jelas ini sangat berkaitan erat dengan habitat dan relung ekologi/niche yang merupakan dua konsep yang penting dalam mempelajari populasi, komunitas, atau ekosistem.
Berbicara tentang habitat suatu organisme tidak lain adalah tempat organisme itu berada/alamat organisme yang bersangkutan di alam. Menurut Irwan (2010: 58-60) mengatakan bahwa setiap makhluk hidup mempunyai habitat yang sesuai dengan kebutuhannya. Apabila terjadi gangguan atau perubahan yang cepat makhluk tersebut mungkin akan mati atau pergi mencari habitat lain yang cocok. Misalnya jika terjadi arus terus-menerus di pantai habitat bakau, dapat dipastikan bakau tersebut tidak akan bertahan hidup. Akan tetapi jika terjadi perubahan secara perlahan atau berevolusi, lama kelamaan makhluk yang ada di situ akan berusaha melakukan penyesuaian diri, atau beradaptasi yang akhirnya mungkin akan terjadi jenis baru. Habitat dapat disebut alamat makhluk hidup. Dan setiap makhluk hidup mempunyai lebih dari satu habitat.
Habitat suatu organisme dapat seluas padang rumput (praire) dan samudera, akan tetapi tidak menutup kemungkinan habitatnya sesempit pokok kayu yang roboh atau celah sempit di antara cabang pohon. Dan perlu diingat bahwa suatu habitat selalu berupa kawasan fisik dengan batasan yang jelas dan dapat dihuni oleh banyak spesies. Ini juga jelas tidak terlepas dari peran relung/status organisme itu di dalam ekosistemnya. Seperti diambil contoh pada  rumput, bayam, kangkung yang memiliki status di ekosistem sebagai produser yang menyediakan banyak energi yang kemungkinan besar akan memberikan sumbangsih penuh bagi kelangsungan hidup hewan-hewan sekitarnya baik konsumer tingkat I, konsumer II, konsumer III, maupun bagi dekomposer sehingga terbentuklah aliran energi melalui suatu rantai makanan maupun jaring-jaring makanan.  Menurut Odum (1992:15) mengatakan bahwa rantai makanan ekologi yang khas dapat menggambarkan konsep urutan-urutan transformasi kualitas energi. Diambil contoh lain misalnya energi yang mendukung phytoplankton ditransformasikan melalui zooplankton, kemudian melalui ikan kecil ke ikan besar. Pada setiap tahapan, banyak energi terpakai dalam transformasi, dan hanya sejumlah kecil saja ditransformasikan ke kualitas yang lebih tinggi yaitu kualitas yang lebih terkonsentrasi dan dalam bentuk yang mampu bekerja/melakukan kegiatan secara khusus jika diumpankan kembali. Sistem riil cenderung membentuk jaring-jaring daripada membentuk rantai, namun perubahan energinya serupa. Penurunan energi diikuti oleh kualitas.
Penjelasan relung ekologi dalam ekosistem di atas merupakan kegiatan fundamental yang dilakukan oleh masing-masing peran makhluk hidup di alam (produser, konsumer, dekomposer) untuk saling transfer energi demi memenuhi aktivitas hariannya. Energi ini diperoleh dari sumber bahan makanan yang berasal dari makhluk hidup lain yang dimangsanya. Untuk itu, Menurut Achmad dan Pramudiyanti (2005:66) mengatakan bahwa suatu spesies dapat menempati relung sangat berbeda di daerah yang berbeda, tergantung pasokan makanan, serta jumlah dan jenis kompetitornya.  Dan ini jelas adanya berbagai interaksi antar spesies itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Winatasasmita (1992:23) bahwa dalam suatu ekosistem, terjadi berbagai interaksi antar spesies. Interaksi-interaksi tersebut antara lain:
1.      Neutralisme, tidak satupun populasi yang terpengaruh oleh interaksi tersebut.
2.      Mutual inhibition competition thype (tipe persaingan yang saling menghalang-halangi), kedua populasi secara aktif saling menghalang-halangi.
3.      Tipe persaingan penggunaan sumber daya.
4.      Amensalisme, satu populasi dihalang-halangi sedang yang lainnya tidak terpengaruh.
5.      Parasitisme, satu populasi menyerang secara langsung populasi lainnya.
6.      Predasi, satu populasi menyerang secara langsung populasi lainnya.
7.      Komensalisme, satu populasi diuntungkan sedangkan yang lain tidak terpengaruh.
8.      Protokooperasi, kedua populasi memperoleh keuntungan dengan adanya asosiasi tersebut, tetapi hubungan itu bukan menjadi suatu keharusan.
9.      Mutualisme, kedua populasi saling menguntungkan dan keduanya saling membutuhkan.
Semua interaksi-interaksi di atas bertujuan untuk memenuhi standar kehidupannya serta untuk memberikan ketahanan dari masing-masing spesies di dalam ekosistemnya agar tidak punah.
B. Perbedaan Ekosistem dalam Biodiversitas
Menurut Irwan (2010: 187) mengatakan bahwa kanekaragaman hayati yang terhimpun dalam pelbagai ragam tipe ekosistem berpengaruh baik secara langsung atau tidak langsung pada kehidupan. Dalam segala tipe ekosistem, mulai dari yang paling sederhana sampai pada yang paling lengkap akan terjadi dua aspek penting yaitu adanya siklus energi dan daur mineral. Semua komponen ekosistem itu akan menjalankan tugasnya sesuai dengan fungsi dan relung masing-masing.
Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa ada kaitan antara ekosistem dalam biodiversitas serta memiliki perbedaan dalam hal fungsinya. Kaitan ini dapat berupa terjadinya proses biologi yang melibatkan keseluruhan makhluk yang beranekaragam dapat menjamin tersedianya oksigen di udara dalam jumlah konstan. Selain itu, ekosistem alamipun merupakan salah satu perangkat penataan air, karena daur airpun dapat melewati makhluk yang terkandung dalam ekosistem itu. Dengan adanya beranekaragam ekosistem, maka terdapat pula keanekaragaman flora dan fauna. Hal ini juga akan menjamin semakin tinggi pula pembauran genetik yang akan memperkaya keanekaragaman hayati, yang akan mempertinggi pula ketahanan ekosistem terhadap pengaruh-pengaruh dari luar.
Keanekaragaman hayati meliputi tiga tingkatan yaitu; keanekaragaman tingkat spesies, keanekaragaman tingkat genetik, dan keanekaragaman tingkat komunitas, maka Purvis dan Hector (dalam Indrawan dkk, 2007:15) mengatakan bahwa ketiga tingkatan keanekaragaman hayati itu diperlukan untuk kelanjutan kelangsungan hidup di bumi dan penting bagi manusia.
SUMBER RUJUKAN
Achmad, Arwin. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Universitas Lampung:
          Bandar Lampung.
Indrawan, Mochamad, dkk. 2007. Biologi Konservasi. Penerbit Yayasan Obor
          Indonesia: Jakarta.
Irwan, Zoer’aini Djamal. 2010. Prinsip-Prinsip Ekologi. Penerbit PT. Bumi Aksara:
         Jakarta.
Odum, Howard T. 1992. Ekologi Sistem. Gadjah Mada University Press:Yogyakarta.
Winatasasmita, Djamhur. 1992. Materi Pokok Biologi Umum. Universitas Terbuka:
          Jakarta.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *