STATUS GIZI

Posted on

STATUS GIZI
Disusun Oleh:
Istigfar Romadhon                (0913024012)
M. Agita Brevy Hernovan    (0913024104)
Rizki Faya Islami                  (0913024110)
Soni Satriansyah                   (0913024018)
Wahid Biyobe                        (0913024076)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2011
I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah
Kesehatan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan makanan yang kita makan sehari-hari.Jika makanan  yang kita makan memenuhi syarat gizi yang sesuai, maka kemungkinan kekurangan gizi dapat dihindari.Suatu gizi dapat dikatakan seimbang/sesuai, kekurangan atau kelebihan.Keadaan nutrisi atau gizi dalam tubuh seseorang tersebut dikatakan sebagai status gizi.Agar dapat dipahami lebih mendalam tentang status gizi, kami akan mencoba menjelaskan hal itu, menggunakan makalah yang kami buat ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah kali ini yaitu diantaranya:
1.Memahami tentang apakah yang dimaksud dengan status gizi.
2.Mengetahui akibat yang ditimbulkan apabila gizi seseorang dikatakan buruk
3.Menjabarkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi gizi seseorang
4.Menyebutkan beberapa contoh, atau fakta masalah gizi di Indonesia.
II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Status Gizi dan Kategori IMT (Indeks Massa Tubuh)
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam  pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia .(Beck, 2000: 1).
Sebenarnya status gizi seseorang dapat pula dihitung dengan menggunakan IMT ( Indeks Massa Tubuh).
Penilaian Status Gizi atau dalam Kategori IMT – Untuk mengetahui status gizi seseorang, kita dapat menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai istrumen. IMT adalah instrumen sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur status gizi seseorang, terutama berkaitan dengan kekurangan dan atau kelebihan berat badan. Permasalahan berat badan bukanlah hal yang sederhana. Seseorang yang berat badannya masuk dalam kategori kurus, penampilannya cenderung kurang baik, mudah letih dan memiliki resiko terkena penyakit seperti infeksi, depresi, anemia san diare. Sebaliknya seseorang yang memiliki berat badan di atas normal atau berlebihan, penampilannya juga cenderung kurang menarik. Geraknya lamban, dan beresiko terkena penyakit jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi dan sebagainya. Maka memiliki tubuh ideallah yang selalu diharapkan semua orang.
Rumus IMT adalah : Berat Badan (Kg) : Tinggi Badan (m)2
For Example :
Soal 1: Faisal memiliki tinggi badan 174 cm dan berat badan 80 kg, maka IMT adalah :
Jawab:
80 : (1,74 x 1,74) = 80 : 3,03 = 26,40
Angka tersebut kemudian dikonsultasikan ke dengan kategori IMT sehingga Alan dinyatakan dalam kategori gemuk.
Berikut ini disajikan table kategori IMT:
IMT ( Indeks Masa Tubuh)
Kategori
<17,0
17,0 s.d 18,5
>18,5 s.d 25,0
25,0 s.d 27,0
>27,0
Sangat Kurus
Kurus
Kurus Normal atau Ideal
Gemuk
Sangat Gemuk
 (Sumber: artikelpenjas.blogspot.com)
Sementara itu juga status gizi seseorang dapat ditentukan dengan Klasifikasi Status Gizi yang akan disajikan pada table di bawah ini:
INDEKS
STATUS GIZI
AMBANG BATAS *)
Berat badan menurut umur (BB/U)
Gizi Lebih
> + 2 SD
Gizi Baik
≥ -2 SD sampai +2 SD
Gizi Kurang
< -2 SD sampai ≥ -3 SD
Gizi Buruk
< – 3 SD
Tinggi badan menurut umur (TB/U)
Normal
≥ 2 SD
Pendek (stunted)
< -2 SD
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Gemuk
> + 2 SD
Normal
≥ -2 SD sampai + 2 SD
Kurus (wasted)
< -2 SD sampai ≥ -3 SD
Kurus sekali
< – 3 SD

(Sumber : Depkes RI, 2002. dalam creasoft.wordpress.com)

2.2. Akibat Kekurangan Gizi (Gizi Salah)
Berikut ini dampak/akibat kekurangan gizi diantaranya yaitu :
1) Perkembangan Mental
Gizi salah yang diderita pada masa periode dalam kandungan dab periode anak-anak, menghambat perkembangan kecerdasan.Anak yang menderita gizi salah tingkat berat mempunyai otak yang lebih kecil daripada ukuran otak rata-rata, dan mempunyai sel otak yang jumlahnya 15-20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang mempunyai gizi yang baik.Sementara itu kepustakaan tentang gizi salah semakin bertumpuk yang membahas masalah gizi salah sebagai penyebab perilaku abnormal dan kelainan yang diderita pada umur muda sehingga dapat menyebabkan kelainan kromosom yang akan tetap bertahan selama hidup.
2) Perkembangan Fisik
Sifat yang diturunkan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh seorang anak.Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh sifat keturunan tersebut.Penelitian di Jepang, Taiwan dan negara-negara lain memperlihatkan perbaikan gizi pada akhir tahun ini.Semuanya menunjukkan perubahan tinggi badan yang jelas.Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian besar penduduknya pendek, tidak mencapai potensi yang ditentukan oleh sifat keturunan karena gizi yang tidak mencukupi.Pada umumnya masyarakat golongan berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil.Lebih dari 300 juta anak menderita hambatan pertumbuhan.Bukanlah tidak terjadi kesalahan menganggap anak yang pertumbuhannya terhambat 20-30% sebagai anak sehat, yaitu menganggap anak berumur 9 tahun yang menderita gizi salah sebagai anak sehat berumur 6 atau 7 tahun.90% sari 3000 anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat social ekonomi rendah yang telah diteliti di India, terdapat di bawah persentila 10 ukuran normal bagi tinggi dan berat badan anak sehat
.
3) Defisiensi Gizi
Defisiensi gizi yang paling berat dan meluas terutama dikalangan anak-anak, ialah akibat kekurangan kalori dan protein sebagai akibat kekurangan konsumsi pangan dan hambatan mengabsorpsi zat gizi.Pada defisiensi yang berat, anak dapat menderita marasmus, suatu kekurangan kalori pprotein yang berat, atau kwashiorkor yang disebabkan terutama oleh defisensi protein yang berat.Survei di Negara-negara yang berpenghasilan rendah memperlihatkan bahwa marasmus yang ditandai oleh gambaran, garis-garis penyusutan dan pengeringan, serta hambatan badan anak secara umum mejangkit 1,2-6,8 % anak-anak berumur prasekolah. KwasiorkorI dengan ciri-ciri perut menggayut dan mata yang memandang kosong ke depan, pada saat tertentu menyerang 0,2-1,6% anak berumur prasekolah.1 tahun kemudian maka angka tersebut mungkin akan berlipat menjadi 6 sampai 8 kali karena para korban kwarsiorkor yang tidak diterima di rumah sakit jarang sekali dapat bertahan hidup untuk jangka waktu yang lebih panjang. Di Haiti, 7% dari anak yang berumur 1 sampai 3 tahun adalah korban penyakit kwarsiorkor.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
A. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
1) Pendidikan dan pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999, dalam creasoft.wordpress.com)
Selain itu, banyak faktor ekonomi yang sukar untuk dinilai secara kuantitatif, khususnya pendapatan dan kepemilikan (barang berharga, tanah, ternak) karena masyarakat enggan untuk membicarakan kepada orang yang tidak dikenal, termasuk ketakutan akan pajak dan perampokkan. Tingkat pendidikan juga termasuk dalam factor ini. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan( Departemen gizi dan kesehatan masyarakat, 2007).
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001, dalam artikelpenjas.blogspot.com)
2) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang  menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 1991).
3) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998, dalam artikelpenjas.blogspot.com)
Budaya berperan dalam status gizi masyarakat karena ada beberapa kepercayaan, seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi ikan ( Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007).
B.  Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
1) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001 dalam creasoft.wordpress.com)
2)Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all,  1986)
3) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all,  1986 dalam creasoft.wordpress.com)
2.4 Masalah gizi di Indonesia
Pada saat ini, Indonesia menghadapi gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan; kurangnya kesediaan pangan; kurang baiknnya kualitas lingkungan(sanitasi); kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi; menu seimbang dan kesehtan; dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan (Almatsier, 2009) .
Selain itu, jumlah penderita gizi buruk selama 10 tahun terakhir stagnan tanpa ada penurunan yang berarti. Pada tahun 2002, kasus gizi buruk menimpa 1.469.596 anak balita. Sementara itu, dua anak balita meninggal setiap menit. (Ali Khomson, 2006).
Berikut ini permasalahan gizi buruk yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia yang diambil dari beberapa sumber refrensi.
Gizi buruk, seorang bocah hanya terbaring lemas.
Liputan6.com, Tangerang: Orang miskin dilarang sakit. Kejadian ini menimpa Hamdani, anak laki-laki berusia enam tahun. Di usianya itu, Hamdani seharusnya sudah sudah merasakan bangku sekolah dasar seperti anak seusianya.

Hamdani adalah anak ketiga dari pasangan Eya dan Basri, warga Desa Panongan, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Banten. Ia hanya bisa terbaring lemas didampingi ibunya tanpa bisa melakukan aktivitas seperti anak seusianya. Untuk makan saja, ia harus disuapi sang ibu karena kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin melemah, diduga akibat gizi buruk yang dideritanya sejak berusia tiga tahun.

Basri yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, sedangkan Eya hanya seorang ibu rumah tangga. Mereka tak mampu membiayai pengobatan anaknya karena penghasilan mereka hanya cukup untuk membeli makan seadanya.

Menurut Eya, anaknya menderita gizi buruk sejak lahir dan pada usia tiga tahun semakin terlihat penurunan berat badannya. Pihak keluarga sempat mengobati Hamdani dengan bekal kartu Jamkesmas. Masalahnya, kartu jamkesmas yang dimiliki tidak diterima karena seorang pasien gizi buruk saat dirumah sakit harus diterapi. Tapi, kartu jamkesmas hanya bisa menangung biaya obat sedangkan biaya selama terapi tidak ditanggung. Hal tersebut yang membuat Hamdani hanya dirawat seadanya di rumah.

Kini kedua orangtua Hamdani hanya bisa berharap pemerintah setempat dan para dermawan bisa sedikit meringankan ekonomi keluarga mereka dan membantu pembiayaan untuk perobatan anaknya agar kelak bisa menjadi anak normal dan bisa bersekolah seperti biasa. (YUS)

Selain kasus gizi buruk yang terjadi di Tangerang, di Nusa Tenggara Timut (NTT) juga terjadi kasus yang sama, berikut cuplikan beritanya:
Tim Nasional Kaji Masalah Gizi Buruk di NTT
Selasa, 16 Maret 2010 | 09:49 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang – Tim Nasional (Timnas) Penanganan Gizi Buruk, yang terdiri dari Kementrian Kesehatan, Unicef, WHO dan WFP, melakukan kajian masalah gizi buruk di dua kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Alor dan Belu. 
“Kita datang ke sini untuk melakukan kajian dan analisa tentang kasus gizi buruk,” kata Ketua Timnas Gizi Buruk, Dini Latief, di Kupang, Selasa (16/3). Menurut dia, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi dari tiga provinsi di Indonesia yang dikaji oleh Tim Nasional terkait kasus gizi buruk. Dua provinsi lainnya adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Jawa Tengah.

Dini menambahkan, masalah gizi buruk di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Sebab,  Indonesia termasuk dalam 36 negara yang punya masalah gizi buruk yang cukup tinggi sehingga perlu ada intevensi yang tepat untuk menangani masalah itu. “Intevensi pemerintah daerah dalam menangani gizi buruk selama ini dinilai tidak tepat sasaran, terutama bagi ibu hamil dan balita,” katanya.

Menurut Dini, NTT merupakan daerah dengan jumlah penderita gizi buruk tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan provinsi NTT, jumlah gizi buruk di kawasan ini mencapai 60.616 orang dari total balita sebanyak 504.900 orang.

Sementara itu, Anggota DPRD NTT, Proklamasi Ebu Tho, menyatakan lambannya penanganan gizi buruk di NTT  karena pemerintah daerah tidak fokus menangani masalah itu. “Penanganan gizi buruk belum jadi program prioritas dari pemerintah daerah. Bahkan, penanganan masalah ini selalu terabaikan,” katanya.

Menurut dia, harapan pemerintah melalui program posyandu untuk menekan angka gizi buruk di NTT tidak berjalan baik sehingga angka gizi buruk terus mengalami peningkatan. “Program posyandu tidak secara kontinyu dilakukan oleh pemerintah,” kata Ebu.

Selain itu, ia menambahkan, program keluarga berencana (KB) juga dinilai tidak berhasil. Hal itu bis a dilihat dari pertumbuhan penduduk di NTT yang mengalami peningkatan sangat signifikan.

“Kalau pendekatan yang dilakukan untuk menangani gizi buruk hanya bersifat proyek, saya yakin tidak akan berhasil,” katanya. Sebab itu, Ebu menegaskan,  butuh komitmen semua pihak dan sektor-sektor terkait untuk bersama-sama menanggulangi masalah gizi buruk di daerah ini.( http://www.tempointeraktif.com)
III. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Status gizi seseorang dapat diperlihatkan dengan menghitung IMT (Indeks Massa
Tubuh)
2. Ada beberapa factor eksternal yang menentukan tingkat status gizi seseorang, diantaranya, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan budaya. Serta disusul dengan factor internal seperti usia, kondisi fisik, dan infeksi
3. Gizi sangat dibutuhkan oleh setiap orang, sehingga apabila tubuh kekurangan gizi maka hal yang mungkin dapat terjadi yaitu kelainan mental dan perkembangan fisik, serta defisiensi asupan gizi
4. Permasalahan gizi di Indonesia sangat buruk, ditandai dengan adanya permasalahan     gizi ganda
 
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita.2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta : Gramedia
Ichsan, M,dkk. 1993. Imu Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
         Kebudayaan direktorat Jenderal pendidikan Dasar dan Menengah.
J, Sutrisno S. 1995. Masyarakat Yang Sehat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Khomsan,Ali. 2003. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: PT. Rajagrafindo            
          Persada
Khomsaan,Ali. 2006. Solusi Makanan Sehat. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada
creasoft.wordpress.com/2010/01/01/statusgizi/ diakses tanggal 26 September 2011
artikelpenjas.blogspot.com/…/pengukuran-statusgizi-indeks-massa.ht tanggal 26
         September 2011
http://www.tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *